
Pantau - TNI Angkatan Laut akan mengoperasikan kapal induk Giuseppe Garibaldi atau KRI Gajah Mada sesuai Doktrin Perisai Trisula Nusantara untuk mendukung operasi tiga matra TNI, dengan fokus utama pada operasi militer selain perang (OMSP), bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan diplomasi.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan salah satu poin dalam doktrin tersebut adalah pemanfaatan kapal untuk mendukung operasi TNI AL, TNI AU, dan TNI AD.
Dengan konsep tersebut, KRI Gajah Mada dapat menjadi landasan bagi alat utama sistem senjata (alutsista) udara yang dioperasikan TNI AU maupun TNI AD.
Penerbang Tiga Matra Jalani Simulasi Pendaratan
Untuk mendukung kemampuan operasi trimatra, sejumlah penerbang dari tiga matra TNI telah menjalani latihan berupa simulasi pendaratan di markas Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda, Surabaya.
Tunggul mengatakan, "Saat ini juga sedang dilaksanakan giat refreshing take off landing Trimatra khususnya bagi pilot TNI AU dan TNI AD."
Namun, Tunggul belum menjelaskan secara terperinci jenis alutsista udara yang nantinya dapat melakukan pendaratan di landasan KRI Gajah Mada.
Tunggul juga menegaskan TNI tidak akan mengerahkan KRI Gajah Mada untuk menjalankan operasi militer maupun invasi terhadap negara lain.
Pengoperasian kapal induk tersebut direncanakan lebih berfokus pada OMSP, termasuk penyaluran bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam.
"Untuk Garibaldi rencana akan dioperasikan berfokus kepada operasi militer selain perang (OMSP) seperti penyaluran bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam," kata Tunggul.
TNI AL juga membuka kemungkinan mengerahkan KRI Gajah Mada dalam misi diplomasi untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan.
TNI AL Bidik Kemampuan Blue Water Navy
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan TNI AL secara bertahap berupaya menerapkan konsep pertahanan laut Green Water Navy sebelum berkembang menuju Blue Water Navy.
"Kita harapannya bisa menjadi Green Water Navy dulu sebelum menjadi Blue Water Navy," kata Ali di Dermaga Kolinlamil, Jakarta.
Blue Water Navy merupakan model angkatan laut dengan kekuatan alutsista dan armada yang mampu menjalankan operasi hingga ke luar wilayah laut negaranya serta menempuh perjalanan jarak jauh melintasi samudra.
Sementara itu, Green Water Navy mengacu pada angkatan laut berkekuatan menengah yang umumnya berfokus pada pertahanan dan penguatan pengawasan wilayah laut dalam negeri, dengan kemampuan operasi besar di luar kawasan yang masih terbatas.
Menurut Ali, kemampuan Blue Water Navy membutuhkan armada dalam jumlah dan kapasitas besar, termasuk kemampuan melakukan perjalanan lintas laut.
Salah satu unsur yang dinilai diperlukan untuk mendukung konsep tersebut adalah kepemilikan kapal induk.
Saat ini, TNI AL masih menunggu kedatangan KRI Gajah Mada yang dibuat oleh galangan Fincantieri di Italia.
Ali menilai kehadiran kapal tersebut dapat membuka peluang bagi TNI AL untuk mengembangkan kemampuan menuju Blue Water Navy, tetapi bukan untuk melakukan invasi.
"Kita mungkin bisa menjadi Blue Water Navy, tetapi bukan untuk invasi. Untuk melaksanakan kegiatan diplomasi yang sifatnya goodwill, port visit, misalnya operasi militer selain perang (OMSP), bantuan kemanusiaan, dan itu sangat berfungsi dan bermanfaat," kata Ali.
Kemampuan tersebut menurut Ali dapat dimanfaatkan untuk diplomasi, goodwill, port visit, OMSP, dan misi bantuan kemanusiaan.
Untuk saat ini, TNI AL masih memprioritaskan penguatan kemampuan militernya agar dapat menerapkan konsep Green Water Navy sebelum berkembang menuju Blue Water Navy.
- Penulis :
- Shila Glorya



