HOME  ⁄  Nasional

BRIN Optimalkan Teknologi Satelit untuk Deteksi Dini dan Pemetaan Karhutla di Indonesia

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

BRIN Optimalkan Teknologi Satelit untuk Deteksi Dini dan Pemetaan Karhutla di Indonesia
Foto: Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN M. Rokhis (sumber: BRIN)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong optimalisasi teknologi satelit dan geoinformatika sebagai salah satu pilar utama untuk mendeteksi dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, mulai dari pencegahan, pemantauan titik panas, hingga pemetaan kawasan yang telah terbakar.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN Rokhis Khomarudin menjelaskan teknologi geoinformatika yang dikembangkan BRIN memiliki tiga peran penting dalam penanganan karhutla saat diskusi yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu (26/8).

Prediksi Risiko dan Pantau Titik Panas

Rokhis mengatakan peran pertama teknologi geoinformatika adalah sebagai sistem peringatan dini atau early warning system melalui model prediksi cuaca untuk membangun indeks cuaca kebakaran dan potensi kekeringan.

"Kita bisa membangun indeks cuaca kebakaran dan potensi kekeringan, bisa dipantau harian untuk memprediksi resiko kebakaran sebelum terjadi," katanya.

Pemantauan secara harian memungkinkan pemerintah dan pihak terkait mengetahui potensi risiko kebakaran sebelum karhutla benar-benar terjadi.

Menurut Rokhis, model pemantauan iklim tersebut telah dikembangkan dan kini dioperasionalkan secara penuh oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Peran kedua teknologi geoinformatika adalah melakukan pemantauan langsung terhadap indikator karhutla melalui pelacakan titik panas atau hotspot.

Teknologi satelit yang tersedia mampu mendeteksi kemunculan hotspot setiap hari di seluruh wilayah Indonesia sehingga datanya dapat digunakan untuk memetakan kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran.

BRIN juga menyediakan platform pemantauan digital berbasis web yang dapat diakses secara bebas untuk mempermudah masyarakat memperoleh informasi sekaligus menjamin keterbukaan data.

Citra Satelit Petakan Kawasan Terbakar

Peran ketiga teknologi geoinformatika adalah mengestimasi sekaligus memetakan luas kawasan hutan dan lahan yang telah hangus terbakar dengan memanfaatkan citra satelit beresolusi tinggi.

BRIN menggunakan sejumlah satelit dalam proses analisis tersebut, antara lain Landsat serta Sentinel 1 dan Sentinel 2.

Hasil penghitungan luas wilayah terdampak karhutla kemudian diserahkan secara rutin setiap bulan kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sebagai pemangku kebijakan dan otoritas resmi yang menggunakan hasil pemetaan tersebut.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik Kementerian Kehutanan Agus Yasin mengatakan pasokan data hotspot harian dari satelit penting sebagai sistem peringatan dini karhutla.

Namun, seluruh hotspot yang terdeteksi satelit tetap harus diverifikasi secara akurat di lapangan karena titik panas tersebut belum tentu merupakan titik api atau fire spot.

Hotspot Harus Diverifikasi di Lapangan

Kementerian Kehutanan menggunakan drone thermal dan kamera pengawas atau CCTV jarak jauh untuk memastikan apakah hotspot yang terpantau satelit benar-benar berasal dari kebakaran atau hanya objek yang menghasilkan panas.

Salah satu objek yang dapat menimbulkan kekeliruan dalam deteksi satelit adalah atap seng rumah penduduk, termasuk yang banyak ditemukan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

"Misalnya terjadi kejadian titik hotspot, itu hotspot-nya ini benar-benar fire spot? Atau hanya panas biasa? Karena biasanya kalau misalnya di Sumatera, di Kalimantan, banyak juga rumah-rumah penduduk yang pakai atap seng, itu juga kadang kala teridentifikasi sebagai hotspot," ucap Agus Yasin.

Pemanfaatan teknologi geoinformatika dalam penanganan karhutla dengan demikian mencakup prediksi risiko sebelum kebakaran, pemantauan hotspot secara harian, serta pemetaan luas wilayah yang telah terbakar.

Data berbasis satelit tersebut tetap dipadukan dengan verifikasi lapangan untuk memastikan lokasi dan kejadian kebakaran secara akurat.

Penulis :
Shila Glorya