
Pantau - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembangunan hunian tetap dan perbaikan rumah bagi pengungsi gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilakukan setelah BMKG menyatakan kondisi wilayah terdampak aman.
Prabowo menegaskan penilaian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan pemerintah sebelum pembangunan permanen dimulai.
Instruksi tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan dampak gempa NTT di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan Yon TP 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Rabu.
“Saya kira kita tetap mengacu saja kepada BMKG. Kalau mereka menilai sudah aman untuk mulai membangun, baru kita mulai bangun,” kata Prabowo.
Pemerintah menunggu rekomendasi BMKG untuk memastikan wilayah terdampak berada dalam kondisi aman dari potensi gempa susulan sebelum pembangunan hunian tetap dan perbaikan rumah dimulai.
Prabowo menyadari masyarakat ingin kondisi segera kembali normal, tetapi pemerintah tidak dapat memaksakan pembangunan apabila kondisi alam belum dinyatakan aman oleh pihak yang memiliki keahlian.
“Kita menunggu BMKG, saya kira karena mereka yang ahli. Kita tahu, semuanya ingin lebih cepat, normal, tetapi kalau memang alamnya seperti itu, kita juga tidak bisa memaksakan,” sambungnya.
BMKG Evaluasi Aktivitas Seismik Setiap Hari
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan pihaknya terus mengevaluasi frekuensi aktivitas seismik di wilayah Pulau Flores untuk mengetahui perkembangan kondisi kegempaan dan menentukan waktu situasi dapat dinyatakan lebih aman.
Evaluasi aktivitas seismik dilakukan BMKG setiap hari dengan salah satu indikator berupa penurunan aktivitas kegempaan secara terus-menerus selama enam hari berturut-turut.
“Tiap hari kami evaluasi, kalau sudah enam hari berturut-turut terus mengalami penurunan, nanti akan kita umumkan,” ujar Faisal kepada Presiden.
BMKG memperkirakan situasi di NTT mulai relatif stabil dan aman dalam waktu sekitar empat minggu sejak gempa utama.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Sejak pekan sebelumnya hingga Rabu, wilayah terdampak tercatat telah mengalami 143 kali gempa susulan.
BNPB Catat 105 Orang Meninggal dan 179 Ribu Mengungsi
Dalam rapat yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melaporkan 105 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut.
BNPB juga mencatat 1.678 orang mengalami luka-luka dan 179.073 warga mengungsi.
Gempa mengakibatkan sedikitnya 81.436 rumah mengalami kerusakan.
Suharyanto menjelaskan banyaknya jumlah pengungsi tidak seluruhnya berasal dari warga yang rumahnya terdampak langsung karena sebagian memilih mengungsi akibat khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan.
Meski gempa susulan masih terjadi, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melaporkan sejumlah pengungsi di beberapa wilayah mulai kembali ke rumah masing-masing, termasuk di Kabupaten Sikka.
Hunian Sementara Mulai Dibangun di Sikka
Pemerintah mulai membangun hunian sementara bagi masyarakat terdampak di Kabupaten Sikka sembari menunggu kondisi dinyatakan aman untuk pembangunan permanen.
Menurut Suharyanto, hunian sementara menggunakan bangunan semipermanen yang relatif aman terhadap gempa sekaligus memberikan tempat tinggal yang lebih baik dibandingkan tenda pengungsian.
“Sementara kan bangunan yang semipermanen, relatif aman terkait gempa, tetapi lebih baik daripada tinggal di tenda. Kita sudah mulai bangun,” kata Suharyanto.
Pembangunan hunian sementara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi, sedangkan pembangunan hunian tetap dan perbaikan rumah akan dimulai setelah BMKG menyatakan kondisi wilayah terdampak aman.
- Penulis :
- Leon Weldrick



