HOME  ⁄  Nasional

Mitratel Bidik Pembangunan 4.000 Tower pada 2027 untuk Perluas Jaringan 5G hingga Wilayah 3T

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Mitratel Bidik Pembangunan 4.000 Tower pada 2027 untuk Perluas Jaringan 5G hingga Wilayah 3T
Foto: Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno di sela Bali Annual Telkom International Conference (Batic) 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu 26/8/2026 (sumber: ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)

Pantau - Mitratel, anak usaha BUMN Telkom Indonesia, berencana membangun sekitar 4.000 tower baru pada 2027 untuk menangkap peningkatan kebutuhan infrastruktur jaringan 5G sekaligus memperluas konektivitas hingga wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan atau 3T.

Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno menyampaikan rencana tersebut di sela Bali Annual Telkom International Conference (Batic) 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu.

Perkembangan 5G Dorong Kebutuhan Ribuan Tower

Agus memperkirakan perkembangan jaringan seluler generasi kelima atau 5G dapat menciptakan kebutuhan pembangunan sekitar 7.000 hingga 10.000 tower dalam satu tahun.

"Ini berkaitan dengan kebutuhan operator tapi melihat perkembangan 5G, ini juga menjadi potensi besar," kata Agus.

Dari potensi kebutuhan hingga 10.000 tower tersebut, Mitratel memperkirakan dapat mengambil porsi pembangunan sekitar 40 persen atau setara dengan 4.000 tower baru pada 2027.

Sisa kebutuhan pembangunan tower diperkirakan akan dikontribusikan oleh operator atau perusahaan lainnya.

Infrastruktur tersebut tidak hanya diperlukan untuk meningkatkan kerapatan dan kualitas jaringan di perkotaan, tetapi juga memperluas jangkauan telekomunikasi di perdesaan dan wilayah 3T.

Saat ini, Mitratel memiliki sekitar 41.000 tower yang tersebar di seluruh Indonesia dengan sekitar 60 persen di antaranya berada di luar Pulau Jawa.

"Kami melihat perkembangan di luar Jawa itu luar biasa dari sisi konektivitas, digital dan lainnya itu berkembang. Ini sejalan dengan distribusi tower kami kebanyakan memang ada di luar Jawa," imbuhnya.

Besarnya porsi tower di luar Jawa sejalan dengan perkembangan kebutuhan konektivitas dan digitalisasi di berbagai wilayah tersebut.

Biaya Pembangunan Diperkirakan Rp1 Miliar hingga Rp1,5 Miliar per Tower

Biaya pembangunan satu unit tower berbeda-beda tergantung kondisi geografis dan karakteristik wilayah, dengan kisaran sekitar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.

Jika 4.000 tower dibangun dengan kisaran biaya tersebut, kebutuhan pembangunan secara kasar dapat mencapai Rp4 triliun hingga Rp6 triliun, tetapi angka itu bukan nilai investasi resmi yang dinyatakan perusahaan.

Rencana penambahan infrastruktur tersebut juga sejalan dengan hasil lelang pita frekuensi radio 700 megahertz (MHz) dan 2,6 gigahertz (GHz) pada 2026 yang telah diumumkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Pemerintah melalui pengembangan jaringan tersebut tidak hanya mendorong peningkatan kualitas layanan di wilayah perkotaan melalui peningkatan kerapatan jaringan, tetapi juga perluasan layanan seluler ke perdesaan dan kawasan 3T.

Sebagai bagian dari ketentuan hasil lelang frekuensi, pemerintah mewajibkan operator memperluas jangkauan layanan telekomunikasi di 530 kelurahan dan desa yang saat ini masih mengalami kondisi sinyal lemah.

Para pemenang lelang frekuensi juga diwajibkan memenuhi target cakupan layanan 5G sedikitnya 51 persen dari populasi Indonesia pada tahun kelima.

Rencana pembangunan sekitar 4.000 tower pada 2027 dengan demikian diarahkan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan infrastruktur 5G sekaligus mendukung pemerataan konektivitas digital di Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa