HOME  ⁄  Nasional

Panas Bumi Gunung Ungaran Berpotensi Hasilkan Listrik 55 MW, Ditargetkan Beroperasi pada 2031

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Panas Bumi Gunung Ungaran Berpotensi Hasilkan Listrik 55 MW, Ditargetkan Beroperasi pada 2031
Foto: Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas ESDM Provinsi Jateng, Dwi Suryono (sumber: Pemprov Jateng)

Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut pengembangan panas bumi Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang dan kawasan perbatasan Kendal berpotensi menghasilkan listrik hingga 55 megawatt (MW) dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2031.

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas ESDM Jawa Tengah Dwi Suryono mengatakan wilayah pengembangan panas bumi tersebut memiliki luas sekitar 29.800 hektare.

Jika berhasil dikembangkan, panas bumi Gunung Ungaran diperkirakan dapat menyumbang sekitar 4–5 persen terhadap total bauran energi baru terbarukan di Jawa Tengah.

Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 300 juta dolar AS dengan pengeboran untuk mendapatkan sumber panas bumi hingga kedalaman sekitar 1.900–2.200 meter.

Pengeboran Gunung Ungaran Ditargetkan Mulai Akhir 2028

Penentuan titik pengeboran tidak dapat dilakukan di sembarang lokasi karena harus mengacu pada potensi panas bumi yang telah diidentifikasi melalui penelitian sebelumnya.

Dwi mengatakan pengeboran diperlukan untuk membuktikan keberadaan sumber panas bumi, tetapi pelaksanaannya baru dapat dilakukan setelah seluruh tahapan perizinan terpenuhi.

"Untuk membuktikan adanya potensi panas bumi, perlu dilakukan pengeboran. Namun, tentunya seluruh fase-fase perizinan harus terpenuhi. Jika sesuai timeline, maka pengeboran akan dilakukan pada akhir 2028, atau di awal 2029," katanya.

Apabila pengeboran menemukan sumber panas bumi dalam jumlah memadai, tahapan berikutnya adalah pembangunan berbagai infrastruktur pembangkit yang diperlukan.

Pembangkit kemudian ditargetkan mencapai commercial operation date atau COD pada 2031 untuk mulai menghasilkan listrik.

Listrik yang dihasilkan dari panas bumi Gunung Ungaran nantinya akan ditransmisikan ke sistem jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali.

Perizinan dan Public Hearing Wajib Dilalui

Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran telah memperoleh landasan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026.

Melalui keputusan tersebut, Kementerian ESDM mendelegasikan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PT PLN Persero.

Meski keputusan menteri telah diterbitkan, Dwi menegaskan proses menuju tahap pengeboran dan penambangan panas bumi masih panjang karena proyek harus melewati berbagai perizinan.

Tahapan tersebut antara lain Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), serta izin lingkungan atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

"Tentunya izin yang sudah dimiliki tidak serta-merta bisa langsung melakukan kegiatan. Ada pula forum dalam izin lingkungan, public hearing mengundang pihak terkait, seperti stakeholder, masyarakat, LSM," katanya.

Pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan melalui public hearing menjadi bagian dari proses lingkungan sebelum proyek dapat memasuki tahapan lebih lanjut.

Bauran EBT Jawa Tengah Tembus 22,3 Persen

Bauran EBT Jawa Tengah saat ini telah mencapai 22,3 persen atau melampaui target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) 2025 sebesar 21,32 persen.

Selain Gunung Ungaran, Jawa Tengah memiliki potensi panas bumi yang tersebar di Dieng, Baturraden, Guci, Umbul Telomoyo, dan Jenawi.

Pembangkit panas bumi Dieng telah beroperasi dengan kapasitas 70 MW, sementara pengembangan fase kedua berkapasitas 55 MW masih dalam proses.

Sementara itu, pengembangan panas bumi di Jenawi belum memiliki kegiatan lanjutan, sedangkan di Umbul Telomoyo telah dilakukan berbagai kegiatan sosialisasi.

Pengembangan di kawasan Baturraden dan Guci saat ini masih belum berjalan atau berstatus off.

"Yang sudah beroperasi di Dieng 70 MW, on progress fase dua 55 MW. Di Jenawi belum ada kegiatan lagi, di Umbul Telomoyo sudah ada sosialisasi-sosialisasi, Baturraden masih off, di Guci juga masih off," katanya.

Penulis :
Leon Weldrick