HOME  ⁄  Nasional

Kasus ISPA di Kalimantan Selatan Meningkat Jadi 36.196 di Tengah Karhutla

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kasus ISPA di Kalimantan Selatan Meningkat Jadi 36.196 di Tengah Karhutla
Foto: (Sumber :Ilustrasi: Satgas Darat berjibaku memadamkan api di lahan gambut di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (25/8/2026). ANTARA/Tumpal Andani Aritonang.)

Pantau - Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 36.196 laporan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama minggu ke-28 hingga minggu ke-32 tahun 2026 di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinkes Kalimantan Selatan Diauddin mengatakan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga 22 Agustus 2026 menunjukkan laporan ISPA meningkat dari minggu ke minggu.

Kasus ISPA Meningkat dalam Lima Pekan

Dinkes mencatat 5.319 kasus pada minggu ke-28, kemudian meningkat menjadi 6.460 kasus pada minggu ke-29 dan 7.617 kasus pada minggu ke-30.

Jumlah laporan kembali meningkat menjadi 8.342 kasus pada minggu ke-31 dan mencapai 8.458 kasus pada minggu ke-32.

"Total laporan selama periode minggu ke-28 sampai minggu ke-32 mencapai 36.196 kasus," ucap Diauddin.

Diauddin menjelaskan minggu ke-32 mencatat jumlah kasus tertinggi selama periode lima pekan tersebut, meski kenaikan dibandingkan minggu sebelumnya hanya 116 kasus.

"Kita melihat laju peningkatan mulai melambat. Tetapi ini bukan berarti kewaspadaan diturunkan. Pemantauan dan surveilans tetap kami lakukan secara berkelanjutan bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota," katanya.

Pada minggu ke-32, laporan ISPA terbanyak berasal dari Kota Banjarmasin dengan 1.603 kasus, disusul Kota Banjarbaru 1.142 kasus dan Kabupaten Banjar 1.135 kasus.

Kabupaten Tanah Laut mencatat 751 kasus dan Kabupaten Kotabaru 538 kasus, sedangkan tiga daerah dengan laporan tertinggi menyumbang sekitar 45,9 persen dari keseluruhan laporan pada pekan tersebut.

Dinkes Belum Simpulkan Karhutla Jadi Penyebab

Diauddin menegaskan jumlah kasus yang dilaporkan melalui SKDR tidak dapat langsung digunakan untuk membandingkan tingkat risiko ISPA antardaerah.

"Jumlah laporan harus dilihat dengan konteks masing-masing daerah. Jumlah penduduk, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kelengkapan dan ketepatan pelaporan bisa berbeda antarwilayah," tuturnya.

Dinkes juga memantau perkembangan kasus di Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Tapin, Hulu Sungai Tengah, dan daerah lainnya untuk memperoleh gambaran kondisi ISPA di seluruh kabupaten dan kota.

Diauddin menegaskan peningkatan laporan ISPA belum dapat disimpulkan seluruhnya disebabkan oleh karhutla maupun penurunan kualitas udara.

"Dinas Kesehatan masih mencermati keterkaitan data kesehatan dengan kondisi kualitas udara, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan satu penyebab, tetapi harus berdasarkan data dan perkembangan di lapangan," ujar Diauddin.

Penulis :
Ahmad Yusuf