
Pantau - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mempercepat pemulihan Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai dan Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak gempa di Pulau Flores.
Dody menginstruksikan rehabilitasi kedua jembatan dilakukan secepat mungkin untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan distribusi barang sekaligus meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap gempa.
Penanganan tersebut menerapkan prinsip build back better, sehingga infrastruktur terdampak bencana tidak hanya dikembalikan fungsinya, tetapi juga dibangun dengan kualitas dan ketahanan yang lebih baik.
Jembatan Wae Pesi Ditargetkan Mulai Direhabilitasi Pertengahan September
Jembatan Wae Pesi menjadi salah satu infrastruktur yang mendapat perhatian khusus karena secara keseluruhan mengalami dampak paling parah.
Kementerian PU saat ini mendatangkan peralatan dari Jakarta untuk mempercepat rehabilitasi jembatan tersebut, dengan pekerjaan ditargetkan mulai paling lambat pertengahan September 2026.
“Wae Pesi ini secara keseluruhan terdampak paling parah. Kita berusaha merehabilitasi dengan cepat. Saat ini sedang mendatangkan alat dari Jakarta. Mudah-mudahan paling lambat pertengahan September kita sudah mulai melakukan rehabilitasi,” ungkap Dody.
Dody menekankan infrastruktur terdampak gempa harus segera ditangani agar aktivitas masyarakat kembali berjalan serta mobilitas orang dan barang tetap lancar.
“Yang menjadi porsi kita harus kita kerjakan secepat-cepatnya. Dengan kualitas harus lebih bagus lagi dan berkarakter lebih tahan terhadap gempa,” tegas Dody.
Jembatan Wae Pesi berada pada ruas Ruteng–Reo–Kedindi yang memiliki posisi strategis karena terhubung langsung dengan Pelabuhan Reo.
Pelabuhan Reo memiliki depo Pertamina yang mendukung distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga pemulihan jembatan tersebut penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus kelancaran jalur distribusi.
Berdasarkan pemeriksaan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, kerusakan Jembatan Wae Pesi antara lain berupa retakan pada oprit, kerusakan expansion joint, serta bagian daerah aliran sungai (DAS).
Peralatan dari Jakarta saat ini sedang dalam perjalanan menuju lokasi untuk mendukung percepatan penanganan kerusakan tersebut.
Pemulihan diharapkan dapat segera mengembalikan fungsi Jembatan Wae Pesi sehingga gangguan perjalanan masyarakat tidak berlangsung lama.
Jembatan Wae Dampek Diperiksa hingga Bagian Bawah Struktur
Setelah meninjau Jembatan Wae Pesi, Dody memeriksa kondisi Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur.
Jembatan sepanjang sekitar 60 meter dengan struktur rangka baja tersebut membentang di atas Sungai Wae Laing dan berada pada ruas Wae Gongger–Batas Kabupaten Manggarai–Pota.
Dalam peninjauan, Dody memeriksa kondisi oprit serta turun langsung ke bagian bawah jembatan untuk melihat kondisi struktur dan memastikan metode penanganan kerusakan dapat diterapkan secara tepat.
Dody meminta rehabilitasi Jembatan Wae Pesi dan Wae Dampek mempertimbangkan karakteristik Flores sebagai wilayah dengan risiko gempa.
“Ini adalah daerah gempa. Jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya. Prinsipnya kita harus membangun dengan lebih baik lagi, tetapi dengan lebih cepat,” kata Dody.
Gempa Berdampak pada 11 Ruas Jalan Nasional dan 14 Jembatan
Berdasarkan data per 20 Agustus 2026, gempa di Pulau Flores berdampak pada 11 ruas jalan nasional dengan 64 titik longsoran dan tujuh titik patahan badan jalan.
Dampak gempa juga tercatat pada 14 unit jembatan dan deuker.
Untuk mempercepat pemulihan akses transportasi, BPJN NTT telah memobilisasi 12 unit excavator dan empat unit loader.
Jembatan Bailey juga dimobilisasi dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Sulawesi Selatan untuk mendukung penanganan infrastruktur terdampak.
Di tengah proses rehabilitasi dan penanganan kerusakan, Kementerian PU memastikan seluruh ruas jalan nasional di Pulau Flores saat ini sudah dapat dilalui kendaraan secara fungsional.
- Penulis :
- Shila Glorya




