
Pantau - Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (PMPA) PALAWA Universitas Padjadjaran bersama Korps Alumni PALAWA (KAP) Unpad dan Yayasan Palawa Indonesia (YPI) menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada korban gempa bumi di pengungsian mandiri Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Koordinator KAP Unpad Riza Fahriza mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di NTT.
“Sebelumnya kami berupaya menghimpun bantuan yang memang dibutuhkan masyarakat terdampak dan menyalurkannya sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Bantuan yang berhasil dihimpun kemudian dibelanjakan langsung di Flores untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, termasuk sembako.
Riza menyebut masyarakat terdampak saat ini membutuhkan sembako, makanan siap saji, terpal, tenda, selimut, serta tikar atau matras selama menjalani masa penanganan pascabencana.
“Kebutuhan yang kami prioritaskan mencakup pangan, perlengkapan hunian sementara, kesehatan, sanitasi, dan penerangan,” ujarnya.
PALAWA Unpad, KAP Unpad, dan YPI sebelumnya juga terlibat dalam penggalangan dana untuk korban banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat dan Aceh.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 111 orang meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan BMKG mencatat ribuan gempa susulan hingga Jumat (28/8).
“Hingga hari ini setelah gempa 7,7 magnitudo tanggal 15 Agustus 2026 yang lalu, BMKG sudah mencatat adanya 8.794 kali gempa susulan,” kata dia.
BNPB mencatat gempa susulan tersebut berkekuatan magnitudo 1,0 hingga 6,2 dengan sebanyak 152 guncangan dirasakan masyarakat.
“Aktivitas seismik susulan diprakirakan oleh para ahli masih berlanjut selama 3 hingga 4 minggu sejak gempa utama,” katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




