
Pantau - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) memperkuat perannya sebagai kekuatan sosial dan mitra parlemen dalam mengawal aspirasi perempuan serta kebutuhan masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Ibas dalam Silaturahim Kebangsaan bersama Pimpinan Pusat BKMT bertema "Membangun Komunikasi, Mengawal Aspirasi dan Bersinergi untuk Kemajuan Bangsa" di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum BKMT Syifa Fauzia beserta jajaran pengurus, Ketua Umum IPEMI Inggrid Kansil, Sekjen Majelis Dzikir Ani Yudhoyono Mariana Harahap, serta sejumlah anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai Demokrat dari Komisi VIII, IX, X, dan XI.
Ibas menegaskan pertemuan parlemen dan BKMT tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi ruang untuk menyerap aspirasi masyarakat dan membangun langkah konkret.
"Ini bukan sekadar pertemuan formal. Ini adalah pertemuan hati. Ini adalah silaturahim kebangsaan. Yang lebih penting, ini adalah kesempatan untuk saling mendengar, saling menguatkan, dan bersama-sama memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia," ujar EBY.
Ibas menilai jaringan majelis taklim yang tersebar di berbagai daerah memberikan BKMT modal sosial besar untuk memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
"BKMT adalah tempat ilmu bertemu dengan pengabdian. Tempat perempuan bertemu dengan kekuatan. Karena itu, kita harus siap bersinergi dan siap berkolaborasi," kata Ibas Yudhoyono.
Menurut Ibas, kekuatan perempuan memiliki peran penting dalam ketahanan keluarga karena pergerakan perempuan dapat berdampak pada keluarga, masyarakat, hingga kemajuan bangsa.
"Jangan setiap hari kita memperbesar masalah. Mari kita perbesar solusi. Masih ada tantangan, tetapi ada peluang jika kita bersatu," tegas Edhie Baskoro.
Ibas mengatakan aspirasi BKMT dapat diperjuangkan melalui sejumlah komisi di DPR yang menangani bidang agama, sosial, kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, generasi muda, keuangan negara, hingga pembangunan.
"Artinya, aspirasi BKMT memiliki banyak pintu untuk diperjuangkan di parlemen. Tugas kita adalah membuat pintu-pintu itu saling terhubung," ujar EBY.
Ia meminta BKMT terus menyampaikan aspirasi terkait pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan sosial, UMKM, ekonomi masyarakat, dan ketahanan keluarga agar dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan.
Anggota Komisi VIII DPR RI Nanang Samodra menawarkan program pendampingan sertifikasi halal yang melibatkan perempuan dan ustazah di lingkungan majelis taklim menjelang berlakunya kewajiban sertifikasi halal bagi produk makanan, kosmetik, dan obat-obatan pada 18 Oktober 2026.
"Ibu-ibu majelis taklim berkesempatan menjadi pendamping halal, membantu masyarakat UMKM memproses kehalalannya dengan cara self-declare," ujar Nanang.
Nanang menyebut pendamping yang berhasil membantu proses hingga sertifikat halal diterbitkan dapat memperoleh insentif sekitar Rp150.000 untuk setiap produk.
Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana menawarkan kolaborasi program Cek Kesehatan Gratis yang dapat digelar bersamaan dengan kegiatan BKMT melalui kerja sama dengan Poltekkes dan Dinas Kesehatan setempat.
Cellica juga mendorong perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi ustaz dan guru mengaji yang bekerja di sektor informal.
"Guru ngaji adalah salah satu pekerja informal yang bisa kami fasilitasi. Iurannya terjangkau, tetapi cakupan perlindungannya sangat bermanfaat bila terjadi kecelakaan kerja," katanya.
Anggota Komisi X DPR RI sekaligus anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen Bramantyo Suwondo melihat peluang kerja sama people to people dengan negara-negara Islam dalam bidang pendidikan dan dakwah serta pengembangan pariwisata halal.
"Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar, focal point pariwisata halal seharusnya ada di Indonesia. Ini yang bisa kita kerjakan bersama," ujarnya.
Sekretaris Fraksi Partai Demokrat sekaligus Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Hasan mendorong penguatan ekonomi umat melalui pengembangan UMKM dan koperasi.
"Kita perkuat spiritual dan keimanannya, tetapi kita perkuat juga ekonominya," kata Marwan.
Ketua Umum IPEMI Inggrid Kansil turut mengusulkan penguatan ketahanan keluarga serta kajian untuk generasi muda, khususnya Gen Z, melalui kolaborasi IPEMI, BKMT, dan Majelis Taklim Ani Yudhoyono.
Ibas menegaskan arah pembangunan dan anggaran negara harus menjawab kebutuhan masyarakat, terutama pada sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi keluarga, dan pemberdayaan perempuan.
"Suara BKMT harus terus disampaikan. Aspirasi, pandangan, dan masukannya kita pastikan menjadi bagian dari upaya mewujudkan tujuan bernegara: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa," ujar EBY.
Ibas juga mengenang kiprah almarhumah Tuty Alawiyah dan almarhumah Ani Yudhoyono dalam pemberdayaan perempuan, pendidikan, kesehatan, keluarga, serta kegiatan sosial.
"Saya merasa ada sebuah estafet yang harus kita lanjutkan. Estafet kebaikan, estafet pengabdian, estafet kepedulian, dan estafet untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat," tutur Ibas Yudhoyono.
Ibas berharap BKMT terus menjadi wadah bagi perempuan Indonesia untuk belajar, berdakwah, berkarya, berbagi, dan mengabdi sekaligus menjadi mitra parlemen dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan




