
Pantau - Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji berharap kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 di bawah Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar mampu menjaga persatuan bangsa sekaligus menyatukan berbagai kelompok di internal NU.
Sarmuji menyampaikan selamat kepada kedua tokoh tersebut dan meyakini kepemimpinan baru PBNU dapat terus memperkuat peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Tentunya kami menyampaikan selamat kepada Kiai Miftach dan Gus Kikin. Kami yakin Kiai Miftach dan Gus Kikin bisa membawa NU untuk terus menjaga persatuan bangsa," kata Sarmuji.
Sarmuji Yakin Gus Kikin Mampu Rangkul Semua Kelompok
Menurut Sarmuji, salah satu tugas kepemimpinan baru PBNU adalah kembali menyatukan berbagai faksi yang muncul akibat dinamika Muktamar Ke-35 NU.
Ia meyakini Gus Kikin mampu menjadi sosok yang menjembatani serta mengakomodasi berbagai kelompok di lingkungan PBNU yang kemungkinan sempat mengalami ketegangan selama Muktamar.
"Kami yakin Gus Kikin bisa menjadi sosok yang akomodatif, merangkul semua kelompok di PBNU yang mungkin sempat memanas karena Muktamar," ungkapnya.
Berdasarkan pengenalannya terhadap Gus Kikin, Sarmuji menilai Ketua Umum PBNU tersebut sebagai sosok yang sangat bijaksana dan dapat menjadi teladan.
Ia juga memandang Gus Kikin memiliki kemampuan untuk membawa NU menjadi lebih guyub serta menciptakan suasana teduh bagi seluruh pihak.
Sarmuji meyakini PBNU di bawah kepemimpinan Gus Kikin dapat menjadi rumah besar umat yang teduh sekaligus menghadirkan harapan baru bagi warga Nahdliyin dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Saya berharap NU terus menjadi kabar gembira bagi bangsa Indonesia dan warga Nahdliyin bisa bangga menjadi anggotanya," kata Sarmuji.
Ia juga berharap PBNU tetap menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus terus memperkuat kecintaan warga Nahdliyin terhadap NKRI.
PBNU Dinilai Punya Peran Strategis Menjaga NKRI
Sarmuji yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI menilai pergantian kepemimpinan PBNU memiliki arti strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut dia, hal tersebut tidak terlepas dari posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar yang menjadi salah satu penopang utama moderasi beragama di Indonesia.
Sarmuji menilai pemimpin PBNU memiliki tanggung jawab untuk menjaga karakter Islam Indonesia yang toleran dan moderat serta menjadi mitra strategis negara dalam merawat NKRI.
"NU adalah pilar kebangsaan. Siapa pun yang memimpin PBNU otomatis mengemban tanggung jawab menjaga wajah Islam Indonesia yang toleran dan moderat, sekaligus menjadi mitra strategis negara dalam merawat NKRI," kata Sarmuji.
Ekonomi Pesantren Diharapkan Jadi Fokus PBNU
Selain persoalan keagamaan dan kebangsaan, Sarmuji menilai penguatan ekonomi umat berbasis pesantren perlu menjadi salah satu fokus utama kepengurusan PBNU periode 2026–2031.
Jaringan pesantren NU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
Kepengurusan baru PBNU diharapkan semakin mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan umat sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
"Kami berharap kepengurusan baru PBNU dapat semakin mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan umat, sehingga NU tidak hanya menjadi kekuatan moral-keagamaan, tapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput," ungkap Sarmuji.
Gus Kikin Raih 472 Suara dalam Penjaringan
Gus Kikin merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang ditetapkan memimpin PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.
Penetapan Gus Kikin dilakukan melalui musyawarah majelis Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU setelah namanya mendapat persetujuan dari Rais Aam terpilih.
Sebelum ditetapkan melalui mekanisme AHWA, Gus Kikin memperoleh dukungan terbanyak dalam proses penjaringan bakal calon Ketua Umum PBNU dengan mengantongi 472 suara.
Dukungan tersebut berasal dari unsur Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
- Penulis :
- Arian Mesa




