HOME  ⁄  Nasional

Kebakaran Desa Adat Sade Picu Kerugian Rp33,84 Miliar, 320 Pelaku Pariwisata Terdampak

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kebakaran Desa Adat Sade Picu Kerugian Rp33,84 Miliar, 320 Pelaku Pariwisata Terdampak
Foto: Sejumlah warga membersihkan puing-puing sisa kebakaran yang melanda Desa adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis 27/8/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Pantau - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan perkiraan total kerugian akibat kebakaran di Desa Adat Sade, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencapai Rp33,84 miliar dengan 320 pelaku pariwisata atau 189 kepala keluarga terdampak.

Nilai kerugian tersebut disampaikan Widiyanti dalam Rapat Kerja Bersama Komisi VII di Jakarta, Senin.

"Kami telah mendapat laporan total kerugian ada Rp33,84 miliar dan kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah," ungkap Widiyanti.

Kementerian Pariwisata telah menerima laporan mengenai kerugian tersebut dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani dampak kebakaran.

Puluhan Hunian dan Artshop Terdampak Kebakaran

Kebakaran mengakibatkan kerusakan terhadap sejumlah bangunan dan fasilitas yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat serta aktivitas pariwisata di Desa Adat Sade.

Total hunian yang terdampak kebakaran tercatat sebanyak 75 unit, sementara 20 unit bangunan di luar desa juga turut terdampak.

Sejumlah tempat pertemuan tradisional ikut terdampak, termasuk empat unit Berugak Sekenam yang merupakan bangunan tradisional khas Suku Sasak di Lombok.

Fasilitas tradisional lainnya yang terdampak meliputi enam unit Berugak Sakepat dan satu unit Bale Beleq.

Sarana lain yang terdampak mencakup delapan lumbung padi, satu toilet umum, satu gerbang, satu pelonggu, dan satu masjid adat.

Kebakaran juga berdampak terhadap 69 artshop milik pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Selain kerusakan bangunan dan fasilitas, kebakaran berdampak langsung terhadap ratusan pelaku pariwisata yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada Desa Sade.

Pelaku pariwisata terdampak terdiri atas 75 pemandu lokal, 120 perajin tenun, serta 60 penjual suvenir dan pelaku UMKM.

Dampak kebakaran juga dirasakan oleh 30 penari dan pemain gendang belek, 15 pengelola parkir dan keamanan, serta 20 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

"Sehingga total pelaku pariwisata ada 320 orang yang terdampak atau 189 kepala keluarga," kata Widiyanti.

Pemerintah Siapkan Penanganan Jangka Pendek dan Panjang

Kementerian Pariwisata telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyusun langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang terhadap dampak kebakaran.

Penanganan jangka pendek mencakup penyediaan dan distribusi stok makanan bagi korban serta program pemberdayaan untuk masyarakat dan pelaku pariwisata terdampak.

Langkah lainnya meliputi penyediaan trauma healing, pemberian bimbingan teknis, dan pemberdayaan Pokdarwis.

Kementerian Pariwisata juga berupaya menyediakan dapur umum dan menyalurkan bantuan logistik melalui Politeknik Pariwisata Lombok.

Dalam penyaluran bantuan, Politeknik Pariwisata Lombok bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI/Polri, dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Pemerintah turut merencanakan pembangunan museum sementara dan masjid agar aktivitas di Desa Sade dapat tetap berjalan.

"Sehingga saat event MotoGP nanti masih bisa dikunjungi oleh wisatawan," ujar Widiyanti.

Untuk penanganan jangka panjang, pemerintah berencana membentuk tim kerja lintas kementerian dan lembaga guna menghidupkan kembali Desa Sade.

Pemerintah juga berencana membentuk satu akun donasi untuk mendukung proses pemulihan.

Langkah jangka panjang lainnya mencakup penyusunan master plan rekonstruksi hingga pembangunan rumah layak tinggal bagi masyarakat terdampak.

Desa Sade Terima hingga 1.000 Wisatawan per Hari Saat Musim Ramai

Desa Adat Sade merupakan salah satu dari 21 dusun yang berada di Desa Wisata Rembitan.

Berdasarkan aplikasi Jejaring Desa Wisata (Jadesta), Desa Wisata Rembitan masih masuk kategori desa wisata berkembang.

Dalam kondisi normal, Desa Sade dapat menerima sekitar 200 kunjungan wisatawan setiap hari.

Jumlah kunjungan meningkat signifikan ketika memasuki musim ramai atau peak season.

Pada periode ramai seperti libur Tahun Baru 2026, kunjungan ke Desa Sade dapat mencapai 500 hingga 1.000 wisatawan per hari.

Aktivitas pariwisata tersebut menghasilkan perputaran ekonomi bagi masyarakat Desa Sade.

Menurut Widiyanti, pada musim sepi atau low season, perputaran ekonomi di Desa Sade berkisar Rp22,5 juta hingga Rp35 juta.

Sementara itu, pada musim ramai, perputaran ekonomi Desa Sade dapat mencapai sekitar Rp50 juta per hari.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026