
Pantau - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026, tumbuh 17,5 persen secara tahunan dengan bisnis UMKM tetap menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan capaian tersebut dalam pemaparan kinerja di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam pemaparan tersebut, Hery didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.
Hery menjelaskan kinerja positif BRI dicapai ketika perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30 persen dan inflasi sebesar 3,34 persen.
Aktivitas bisnis UMKM juga menguat yang terlihat dari Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026.
Indeks Bisnis UMKM yang berada di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih dalam fase ekspansi dan optimistis terhadap kegiatan usahanya.
“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional. Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” kata Hery.
Transformasi BRI Mulai Dorong Kinerja Keuangan
Industri perbankan nasional juga dinilai tetap memiliki fundamental solid hingga Triwulan II 2026 dengan kredit tumbuh 12,7 persen secara tahunan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,2 persen, dan dana murah atau CASA naik 11,0 persen.
Kualitas aset industri perbankan turut membaik dengan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 8,5 persen, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3 persen dan Return on Asset (ROA) sebesar 2,5 persen.
Dalam menjaga momentum pertumbuhan, BRI menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite yang diarahkan untuk memperkuat funding franchise, melakukan revamp terhadap bisnis inti, sekaligus membangun new core sebagai sumber pertumbuhan baru.
Dari sisi pendanaan, BRI memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem serta memaksimalkan kanal digital melalui akuisisi merchant, penguatan transaksi BRImo dan QRIS, serta pengembangan BRILink Agen.
Strategi tersebut dilengkapi penguatan posisi BRI pada berbagai klaster bisnis, integrasi value chain, dan penetrasi One BRI Solution.
BRI juga memperkuat bisnis mikro melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kemampuan tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko yang semakin terperinci agar pertumbuhan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.
Sumber pertumbuhan baru dikembangkan melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk memperoleh nasabah berkualitas, serta perluasan layanan bullion bank.
“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ungkap Hery.
Implementasi transformasi itu mulai tercermin dalam kinerja keuangan BRI hingga akhir Triwulan II 2026 dengan aset konsolidasian mencapai Rp2.352 triliun atau meningkat 11,7 persen secara tahunan.
Pertumbuhan aset terutama ditopang kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun dengan dukungan DPK sebesar Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen secara tahunan.
Net interest income BRI meningkat 9,9 persen secara tahunan dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun, sedangkan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” kata Hery.
Peningkatan profitabilitas berlangsung seiring penguatan fundamental dengan Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada Triwulan II 2026.
Efisiensi juga membaik dengan Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen, sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen dan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Return on Asset (ROA) BRI tetap terjaga pada kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” ujar Hery.
Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun
Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan.
Nilai tersebut membuat sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group tetap disalurkan kepada UMKM.
BRI menegaskan diversifikasi sumber pertumbuhan tidak mengubah fokus utama perseroan sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan.
Penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, serta pengembangan new core dilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi dengan UMKM tetap menjadi fondasi utama.
“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi bisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” kata Hery.
Pemberdayaan UMKM Menjangkau Jutaan Pelaku Usaha
Komitmen BRI terhadap ekonomi kerakyatan juga diwujudkan melalui program pemberdayaan UMKM secara end-to-end yang menjangkau tingkat desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha secara individual.
Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, sedangkan Klasterku Hidupku mencapai lebih dari 44 ribu klaster usaha.
Platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM, sementara program pendampingan melalui Rumah BUMN melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.
Ekosistem pemberdayaan tersebut melengkapi upaya BRI memperluas akses pembiayaan, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.
Hery menegaskan BRI tidak hanya menjalankan peran sebagai financial intermediary, tetapi juga sebagai enabler bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ungkap Hery.
BRI menilai keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur berdasarkan pertumbuhan aset, kredit, maupun laba, tetapi juga kemampuan pertumbuhan tersebut dalam menciptakan nilai dan membuka kesempatan bagi pelaku usaha.
“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” kata Hery.
- Penulis :
- Shila Glorya




