
Pantau - Pasukan khusus TNI dan US Army berkolaborasi dalam latihan serangan melalui udara dengan metode free fall atau terjun bebas menuju target yang telah ditentukan dalam Latihan Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di Lanud Gatot Subroto, Lampung, Selasa, 1 September 2026.
Pusat Penerangan Mabes TNI menjelaskan latihan serangan melalui udara tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan tempur para prajurit yang terlibat.
Sebanyak 13 personel dari pasukan TNI dan Amerika Serikat terlibat dalam latihan tersebut.
Personel pasukan khusus TNI yang mengikuti latihan berasal dari Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Taifib TNI AL, serta Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI AU.
Terjun Bebas dan Simulasi Sabotase Target Musuh
Dalam latihan tersebut, para personel diharuskan melakukan terjun bebas dan mendarat pada titik target yang telah ditentukan.
Setelah berhasil mendarat, seluruh personel langsung menjalankan simulasi menyabotase titik yang menjadi lokasi musuh.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan latihan bersama tersebut sekaligus menjadi bagian dari kerja sama militer Indonesia dengan negara mitra.
"Kegiatan ini juga merupakan wujud komitmen TNI dalam diplomasi pertahanan dan kerja sama militer multinasional," kata Nas.
Nas memastikan seluruh rangkaian latihan berlangsung dengan aman dan lancar.
Kelancaran latihan didukung penerapan ketentuan dan standar keselamatan yang harus dipatuhi setiap personel.
Melalui latihan bersama tersebut, TNI berharap kemampuan dan kekuatan tempur prajurit semakin meningkat sehingga mampu menyelesaikan setiap tugas yang diberikan negara.
"Latihan ini juga diharapkan dapat meningkatkan interoperabilitas serta mendukung stabilitas dan perdamaian kawasan Indo-Pasifik," kata Nas.
Super Garuda Shield 2026 Libatkan 4.743 Personel dari 21 Negara
Secara keseluruhan, Super Garuda Shield 2026 melibatkan 4.743 personel dari 21 negara.
Ribuan personel tersebut datang ke Indonesia untuk menguji kesiapan operasional pasukan, memperkuat diplomasi pertahanan, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan.
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menjelaskan Super Garuda Shield merupakan latihan yang diselenggarakan setiap tahun di Indonesia.
"Super Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Yang hadir ada 21 negara tahun ini. Kemudian jumlah total personel yang berlatih sebanyak 4.743 orang dengan 12 materi yang dilaksanakan," kata Agus.
SGS 2026 berlangsung pada 31 Agustus hingga 11 September 2026 dan dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebanyak 21 negara yang terlibat adalah Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brazil, Brunei Darussalam, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Laos, Selandia Baru, Prancis, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
Latihan dilaksanakan di sejumlah lokasi, yakni Bandung, Jakarta, Lampung, Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja di Sumatera Selatan, serta Nunukan di Kalimantan Utara.
Seluruh rangkaian SGS 2026 dijadwalkan ditutup di Jakarta pada 11 September 2026.
Perkuat Diplomasi hingga Kemampuan Siber
Menurut Agus, salah satu tujuan utama pelaksanaan SGS adalah memperkuat diplomasi dengan negara-negara mitra.
Latihan tersebut juga menjadi sarana bagi personel militer dari berbagai negara untuk bekerja sama sekaligus bertukar kemampuan.
"Tujuan latihan adalah yang pertama untuk diplomasi, kemudian untuk bekerja sama dengan tukar kemampuan," kata Agus.
Salah satu materi yang dikembangkan dalam pelaksanaan SGS 2026 adalah kemampuan di bidang siber.
Pengembangan kemampuan tersebut dinilai penting bagi TNI karena satuan siber TNI baru terbentuk sekitar tiga tahun terakhir.
Latihan bersama dengan negara-negara mitra menjadi kesempatan bagi TNI untuk bertukar pengetahuan dan kemampuan di bidang siber.
"Misalnya kita di TNI, baru tiga tahun kita punya satuan siber dan kita di sini latihan dari posko siber dari negara-negara lain juga dan latihan-latihan lainnya," kata Agus.
Selain kemampuan tempur dan siber, SGS 2026 memperkuat materi humanitarian assistance and disaster relief (HADR) atau bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Materi HADR turut dilaksanakan di Kalimantan Utara dengan memberikan perhatian terhadap kemampuan dalam menghadapi dan menangani bencana alam.
"Jadi ada materi HADR, yaitu tentang bencana alam. Tahun ini kita tambahkan materi bencana alam di Kalimantan Utara untuk dilaksanakan," kata Agus.
- Penulis :
- Shila Glorya




