HOME  ⁄  Nasional

Kemenhut Perkuat Deteksi Dini Karhutla, 53 Armada Udara Dikerahkan di Enam Provinsi Prioritas

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenhut Perkuat Deteksi Dini Karhutla, 53 Armada Udara Dikerahkan di Enam Provinsi Prioritas
Foto: (Sumber :Arsip foto - Tim gabungan melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Kujan, Kabupaten Lamandau baru-baru ini. (ANTARA/HO-BPBD Lamandau).)

Pantau - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat deteksi dini dan kecepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan 53 armada udara di enam provinsi prioritas untuk menekan dampak terhadap masyarakat, kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan transportasi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan penanganan sejak dini diperlukan agar kebakaran tidak meluas.

“Deteksi dini dan kecepatan respons menjadi kunci agar api dapat ditangani sebelum meluas dan dampaknya terhadap masyarakat, kesehatan, lingkungan, kegiatan ekonomi, serta konektivitas transportasi dapat ditekan,” kata Ristianto saat dihubungi di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Kemenhut juga memperkuat pusat kendali yang terintegrasi dengan Decision Support System Jaga Rimba untuk mendeteksi dan merespons karhutla secara cepat.

Patroli hingga Modifikasi Cuaca Diperkuat

Kemenhut meningkatkan kesiapsiagaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), menjaga kondisi hidrologis gambut dan ketersediaan air, serta melakukan evaluasi kepatuhan dan penegakan hukum.

“Selain itu, juga meningkatkan kesiapsiagaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), menjaga kondisi hidrologis gambut dan ketersediaan air, serta menjalankan evaluasi kepatuhan dan penegakan hukum secara konsisten,” ujar Ristianto.

Penanganan karhutla dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha.

Operasi meliputi patroli dan deteksi dini, verifikasi hotspot melalui ground check, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, hingga pendinginan lokasi kebakaran.

“Selain itu, pendinginan hingga benar-benar tuntas, patroli udara, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada wilayah dan waktu yang memenuhi persyaratan meteorologis,” kata Ristianto.

Sebanyak 53 Armada Udara Dikerahkan

Pemerintah mengerahkan 53 armada udara di enam provinsi prioritas yang terdiri atas 19 armada untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca serta 34 armada untuk water bombing.

Operasi darat tetap menjadi unsur utama untuk mengisolasi dan memadamkan sumber api hingga tuntas, terutama pada lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.

“Operasi darat juga terus diperkuat karena menjadi unsur utama untuk mengisolasi dan memadamkan sumber api hingga tuntas, terutama pada lahan gambut yang memiliki potensi bara tersimpan di bawah permukaan dan dapat kembali menyala,” ujarnya.

Kemenhut menilai September menjadi fase krusial sehingga operasi difokuskan pada wilayah dengan konsentrasi hotspot dan kebakaran aktif.

“Khususnya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, tanpa mengurangi kesiapsiagaan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, serta wilayah rawan lainnya,” kata Ristianto.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026