
Pantau - Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii meminta dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, diinvestigasi untuk memastikan penyebab kejadian.
Wamenag menilai pemeriksaan diperlukan karena dapur yang sama telah memasok makanan kepada para santri selama hampir satu tahun dan baru kali ini muncul persoalan.
"Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Romo Syafii.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamenag saat menjenguk para santri yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Delapan Santri Dirawat, Lima Sudah Boleh Pulang
Sebanyak delapan pasien menjalani perawatan setelah mengalami keluhan yang terutama berkaitan dengan gangguan pada perut dan rasa mual.
Dari delapan pasien tersebut, lima pasien telah diperbolehkan pulang, sedangkan tiga lainnya masih membutuhkan perawatan.
Menurut Wamenag, kondisi para santri yang mengalami keluhan tersebut tidak tergolong terlalu berat.
"Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat," kata Wamenag.
Romo Syafii menegaskan penyebab kejadian belum dapat disimpulkan dan masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Salah satu pertimbangannya adalah makanan dari dapur yang sama telah dikonsumsi para santri selama hampir satu tahun tanpa mengalami persoalan serupa.
Berdasarkan keluhan yang disampaikan, terdapat dua menu yang banyak dikaitkan dengan kejadian tersebut, yakni telur dan sayuran.
Namun, Wamenag menegaskan telur dan sayuran tersebut belum dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab sebelum investigasi selesai.
Penelusuran akan dilakukan terhadap seluruh proses penyediaan makanan, termasuk proses memasak dan waktu konsumsi.
"Apakah ada proses memasaknya yang tidak sesuai atau ada waktu makannya yang tidak sesuai dengan juknis, itu yang harus kita investigasi," ujar Romo Syafii.
Dapur MBG Dihentikan Sementara untuk Evaluasi
Operasional dapur yang memasok makanan kepada para santri dihentikan sementara untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menjalani evaluasi.
Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh terhadap kemungkinan adanya persoalan dalam pengelolaan dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi lain, Romo Syafii menilai kebutuhan para santri terhadap Program MBG masih tinggi karena selama ini program tersebut mendapat sambutan baik.
"Mereka sangat membutuhkan MBG itu. Keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi," ungkapnya.
Kementerian Agama terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperluas cakupan Program MBG bagi pesantren dan madrasah.
Kementerian Agama bersama Direktorat Pesantren juga mempercepat komunikasi dengan BGN agar semakin banyak pesantren dan madrasah, termasuk yang berada di wilayah terpencil, mendapatkan MBG.
"Kita sedang ngebut dengan Pak Direktur Pesantren supaya tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah," kata Wamenag.
Wamenag berharap pada 2026 tidak ada lagi madrasah maupun pesantren yang belum mendapatkan Program MBG.
Standar Dapur dan Waktu Distribusi Jadi Perhatian
Pemerintah turut melakukan penyesuaian terhadap skema pengelolaan dapur untuk mendukung perluasan Program MBG.
Dalam skema tersebut, pesantren dengan jumlah sekitar 1.000 santri atau sedikit di bawahnya dapat meningkatkan fasilitas maupun membangun dapur sendiri dengan tetap memenuhi standar yang ditentukan.
Standar tersebut mencakup kebersihan dapur, proses pencucian, penyimpanan bahan maupun makanan, serta pengelolaan limbah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas turut menegaskan tidak boleh ada toleransi terhadap petugas MBG yang tidak bertanggung jawab dalam menyediakan makanan kepada penerima manfaat.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah ketepatan waktu antara makanan selesai dimasak, didistribusikan, hingga dikonsumsi.
"Tidak boleh ada toleransi kepada petugas yang tidak bertanggung jawab. Itu kan makan dimasak jam setengah enam, jam enam (WIB). Harusnya dimakan jam sepuluh, jam sebelas (WIB). Dikirimnya jam sebelas (WIB)," kata Zulhas.
Pemerintah hingga kini belum menyimpulkan penyebab dugaan keracunan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan masih akan menginvestigasi berbagai kemungkinan, mulai dari menu makanan, proses memasak, hingga kesesuaian waktu konsumsi.
Dapur pemasok makanan kepada para santri untuk sementara dihentikan operasionalnya guna menjalani evaluasi menyeluruh.
- Penulis :
- Leon Weldrick




