
Pantau - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mendorong penguatan kolaborasi multipihak dan pencegahan sejak dini dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Pusat IAKMI Hermawan Saputra mengatakan penanganan tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi juga harus mengantisipasi faktor musim dan perilaku yang berpotensi memicu karhutla.
“Jangan lupa kasus ini adalah kasus tahunan. Jadi jangan sampai kita sibuk memadamkan apinya tanpa bisa mencegah sedari dini risiko terkait dengan musim dan juga perilaku yang mengarah kepada karhutla ini,” kata Hermawan di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Pencegahan Karhutla Butuh Kerja Sama Multipihak
Hermawan meminta masyarakat menghindari perilaku yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan, melakukan pembakaran, serta membuka lahan dengan cara dibakar.
Risiko kebakaran dinilai semakin besar ketika perilaku tersebut dilakukan pada musim kemarau saat kondisi lahan kering dan mudah terbakar.
Penanganan karhutla juga membutuhkan keterlibatan sektor kehutanan, perkebunan, sosial, ketenagakerjaan, kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Makanya yang paling penting itu ya adalah kerja sama multipihak, multi stakeholders tidak hanya lingkungan kesehatan. Kesehatan ini cenderung menjadi dampak dan akhirnya terbebani," imbuh dia.
Masyarakat di wilayah terdampak asap disarankan menghindari paparan atau sementara mengungsi apabila kondisi membahayakan, sedangkan penggunaan masker standar seperti N95 dianjurkan ketika paparan masih terjadi.
Hermawan juga menyarankan masyarakat mencukupi kebutuhan air putih dan mengenakan pakaian tertutup apabila harus beraktivitas di luar rumah.
“Juga senantiasa menggunakan pakaian yang tertutup ya kalau misalnya memang harus ada di luar rumah. Karena juga ini dampaknya terhadap risiko berbagai paparan yang bisa mengiritasi baik itu mata, juga yang terhirup dan bahkan bisa menimbulkan alergi untuk sebagian orang,” ujar Hermawan.
Asap Karhutla Berisiko Ganggu Pernapasan
Hermawan menjelaskan asap karhutla mengandung berbagai partikel hasil pembakaran yang dapat berasal dari pohon, dedaunan, plastik, dan material lainnya.
Partikel tersebut dapat masuk melalui saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru serta memicu pusing, mual, iritasi, dan sesak napas.
Risiko dinilai lebih tinggi bagi masyarakat dengan penyakit penyerta serta kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, anak-anak, dan bayi.
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu gangguan yang umum akibat paparan asap karhutla, selain risiko memperburuk asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
“Layanan kesehatan yang paling penting tentu saja masker paling utama ya. Oksigen harus ada di setiap sentra pelayanan rescue, dan yang paling utama juga adanya kesiapsiagaan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan sedari dini untuk daerah-daerah terdampak kabut dan asap itu,” tutur dia.
Kementerian Kesehatan sebelumnya memperkuat bantuan logistik berupa masker dan konsentrator oksigen untuk merespons dampak karhutla terhadap 5,4 juta orang di tujuh provinsi.
Tujuh provinsi yang menetapkan status siaga darurat karhutla ialah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan




