
Pantau - Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Badan Industri Mineral (BIM) memiliki peran krusial dalam mempersiapkan kemampuan teknologi dan tata kelola Indonesia untuk melakukan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ).
“Tugas BIM bersifat sebagai otak dan tata kelola,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Yayan, BIM berperan mempercepat penelitian dan pengembangan, menemukan metode pengolahan mineral yang lebih efisien, menyusun tata kelola mineral strategis, serta menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri.
Khusus untuk LTJ, BIM dinilai perlu mendorong penguasaan teknologi pemisahan, menyiapkan standar penanganan bahan radioaktif seperti torium dan uranium yang menyertai monasit, serta membangun kemampuan pengujian dan sertifikasi kandungan LTJ.
Indonesia Belum Punya Pabrik Pemisahan
Yayan menjelaskan hilirisasi LTJ memiliki kompleksitas tersendiri karena komposisi mineral tersebut, sementara sebagian besar LTJ di Indonesia merupakan hasil ikutan penambangan timah di Bangka Belitung.
Ia mengatakan sebagian besar nilai ekonomi LTJ terkonsentrasi pada empat jenis logam yang digunakan untuk magnet.
“Nilai logam tanah jarang terpusat pada empat logam magnet, yakni neodimium, praseodimium, disprosium, terbium. Hanya sekitar 24 persen dari massa, tetapi 91 persen dari nilai (harga),” ujar Yayan.
Namun, Indonesia disebut belum memiliki pabrik pemisahan untuk mengolah empat logam tersebut.
Yayan menilai BIM harus berperan dalam mempersiapkan kemampuan Indonesia untuk menguasai teknologi pemisahan sekaligus memperkuat penelitian terhadap potensi LTJ di dalam negeri.
“Pabrik pemisahan inilah yang selama ini tidak ada. Jalinlah kerja sama dengan pemilik teknologi, misalnya Lynas di Malaysia dan mitra India, untuk memangkas waktu belajar,” kata Yayan.
BIM Diharapkan Jawab Kendala Hilirisasi LTJ
Yayan meyakini BIM dapat berperan mengatasi kendala teknologi, tata kelola, dan penanganan bahan radioaktif dalam rencana hilirisasi logam tanah jarang Indonesia.
Penguatan hilirisasi mineral juga menjadi salah satu agenda pemerintah setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan hilirisasi dan penataan BUMN.
Dorongan tersebut dibahas ketika Prabowo menerima Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta jajaran Danantara di Hambalang, Jawa Barat, Jumat (4/9/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Sabtu (5/9/2026) menyampaikan percepatan hilirisasi menjadi salah satu agenda utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




