
Pantau - Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan meminta pemerintah daerah dan pemangku kepentingan mewaspadai penurunan produksi pertanian yang berpotensi mengganggu pasokan pangan, memicu kenaikan harga, dan menekan pertumbuhan ekonomi Sulsel sepanjang 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernad Wimanda mengatakan sektor pertanian menjadi perhatian di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel pada kisaran 5,4 hingga 6,2 persen tahun ini.
"Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel yang berada pada kisaran 5,4 hingga 6,2 persen tahun ini," kata Rizki dalam keterangannya di Makassar, Senin (7/9/2026).
Kewaspadaan diperlukan karena sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Sulawesi Selatan.
Produksi Padi Turun, El Nino Mengancam Pasokan
Perekonomian Sulsel pada kuartal II 2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan atau year on year (yoy), melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 6,88 persen.
Kontraksi sektor pertanian akibat penurunan produksi padi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perlambatan pertumbuhan tersebut.
BI Sulsel menilai gangguan produksi pertanian tidak hanya berdampak terhadap pendapatan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan dan stabilitas harga.
Risiko tersebut dinilai semakin perlu diantisipasi karena potensi fenomena El Nino dapat mengganggu produktivitas pertanian dan menekan pasokan komoditas pangan, terutama beras.
“El Nino ini membahayakan di pertanian, harga beras kemungkinan akan naik kalau tidak ada intervensi pemerintah melalui Bulog,” ujar Rizki.
BI Mendorong Mitigasi dari Produksi hingga Distribusi
BI Sulsel mendorong mitigasi dilakukan sejak tahap produksi melalui penyediaan embung, pompa air, sumur bor, serta perbaikan jaringan irigasi untuk menjaga produktivitas ketika terjadi gangguan cuaca.
Penguatan rantai pasok juga diperlukan melalui penyerapan dan penyimpanan hasil pertanian, distribusi antardaerah, serta peningkatan peran badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai offtaker hasil produksi petani.
BI turut mendorong perluasan areal tanam dan gerakan menanam komoditas pangan strategis guna menjaga ketersediaan pangan serta mengurangi risiko gejolak harga ketika produksi di sentra tertentu menurun.
Stabilitas produksi pangan dinilai penting karena berhubungan langsung dengan daya beli masyarakat, sementara berkurangnya pasokan dapat mendorong kenaikan harga dan kembali memunculkan tekanan inflasi.
BI Sulsel juga mengingatkan kenaikan harga pangan berpotensi mengurangi ruang konsumsi masyarakat sehingga langkah antisipasi terhadap risiko El Nino dan penurunan produksi perlu dilakukan sejak dini.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




