HOME  ⁄  Nasional

Tenaga Kesehatan Menembus Tebing hingga Laut demi Melayani Korban Gempa NTT

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tenaga Kesehatan Menembus Tebing hingga Laut demi Melayani Korban Gempa NTT
Foto: (Sumber :Relawan dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan memeriksa warga Ende yang terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). ANTARA/HO - Kemenkes.)

Pantau - Tenaga kesehatan dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan menembus jalan pegunungan rusak, tebing dan jurang curam hingga jalur laut untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Relawan TCK Kemenkes dr Halik Malik bersama tiga relawan lainnya menjalankan pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan akses dan sejumlah fasilitas kesehatan yang belum berfungsi optimal akibat bencana.

“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar dr Halik yang ditugaskan di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende.

Relawan Berjalan Kaki 2,5 Jam Menuju Desa

Salah satu perjalanan terberat dialami tim ketika menjalankan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile clinic menuju Desa Nila.

Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau sepeda motor sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mendaki selama sekitar 2,5 jam.

Saat kembali, relawan memilih jalur laut dari dermaga darurat untuk memangkas waktu perjalanan.

Dari kawasan tebing dan jurang, tim menaiki kapal motor dan berlayar sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende hingga kembali ke puskesmas.

Tim menemukan sebagian masyarakat masih bertahan di rumah dengan mendirikan tenda pengungsian mandiri di depan tempat tinggal mereka.

Warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat telah mendapatkan bantuan tenda dan logistik sembari menunggu proses pemulihan serta penyediaan hunian sementara.

Penyintas Alami Gangguan Kesehatan dan Trauma

Kondisi pascagempa mulai memunculkan masalah kesehatan berupa infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, nyeri persendian, hingga gangguan tidur.

Pasien dengan penyakit kronis juga menghadapi kondisi lebih berat karena akses terhadap pelayanan kesehatan terganggu setelah bencana.

Sejumlah warga turut mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih terjadi.

Tim kesehatan juga menemukan kasus yang membutuhkan penanganan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita.

Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas dengan rujukan diberikan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan.

“Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,” ujar Halik.

Sejumlah Puskesmas Beralih Menjadi Posko Tenda

Dari 28 puskesmas di Kabupaten Ende, sedikitnya 12 mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes untuk memperkuat pelayanan di wilayah terdampak.

“Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,” kata dr Halik.

Kerusakan jalan, longsor, medan pegunungan dengan jurang dan tebing curam, serta gempa susulan menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan dalam menjangkau masyarakat.

“Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,” ujar dr Halik.

Kemenkes bersama pemerintah daerah terus memperkuat pelayanan melalui pengerahan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan, dan distribusi logistik medis selama fasilitas terdampak menjalani pemulihan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026