HOME  ⁄  Nasional

Indef Nilai NTT Prospektif Menjadi Basis Garam Industri untuk Mengejar Swasembada 2029

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Indef Nilai NTT Prospektif Menjadi Basis Garam Industri untuk Mengejar Swasembada 2029
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Seorang pekerja mendorong gerobak berisi garam di area tambak garam Nunkurus di desa Nunkurus Kabupaten Kupang, NTT (20/8/2019). Pemerintah Nusa Tenggara Timur menargetkan pada tahun 2023 pihaknya mampu menyumbang garam untuk nasional sebanyak satu juta ton guna mengurangi impor garam yang masih terus dilakukan hingga saat ini. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.)

Pantau - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Nusa Tenggara Timur (NTT) prospektif dikembangkan menjadi basis produksi garam industri berskala besar untuk memperkuat produksi nasional sekaligus mendukung target penghentian impor garam pada 2029.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan NTT memiliki ketersediaan lahan relatif luas, kondisi agroklimat yang mendukung, serta peluang penerapan mekanisasi dalam proses produksi.

“Nusa Tenggara Timur memiliki karakter berbeda berupa ketersediaan hamparan lahan yang relatif luas, kondisi agroklimat yang mendukung, serta peluang mekanisasi sehingga lebih prospektif dikembangkan sebagai basis produksi primer garam industri berskala besar,” kata Esther di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Kondisi tersebut dinilai memungkinkan pengembangan produksi garam berskala industri dengan mekanisasi yang lebih sulit diterapkan pada sebagian tambak garam rakyat di Pulau Jawa karena lahannya terfragmentasi.

Sementara itu, kawasan Pantai Utara Jawa, termasuk sentra di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, tetap dinilai memiliki posisi penting sebagai basis produksi garam rakyat untuk kebutuhan konsumsi dan industri pangan.

Produksi Garam Ditargetkan Tembus 5 Juta Ton

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan produksi garam nasional pada 2024 mencapai sekitar 2,04 juta ton sebelum turun menjadi sekitar 1,04 juta ton pada 2025.

Produksi pada 2025 dipengaruhi dinamika atmosfer yang tidak menguntungkan di sentra garam utama serta keterbatasan penerapan teknologi dan infrastruktur produksi.

Pemerintah menargetkan produksi garam nasional mencapai 2,5 juta ton pada 2026, meningkat menjadi 3,5 juta ton pada 2027, dan lima juta ton pada 2029.

Dengan realisasi produksi 2025 sekitar 1,04 juta ton, produksi nasional perlu bertambah sekitar 1,46 juta ton untuk mencapai target 2026.

Rote Ndao Dikembangkan Menjadi Sentra Garam Modern

Salah satu upaya meningkatkan kapasitas produksi dilakukan melalui pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, NTT, yang memiliki potensi area hingga 10.764 hektare.

Pemerintah telah menyelesaikan pengembangan tahap pertama seluas 616 hektare dan melanjutkan tahap kedua seluas 751 hektare.

Uji coba produksi dilakukan pada lahan tahap pertama dengan panen perdana ditargetkan berlangsung pada November 2026.

Dari total potensi kawasan tersebut, sekitar 2.000 hektare ditargetkan dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui pemanfaatan lahan masyarakat, sedangkan lebih dari 8.000 hektare lainnya diharapkan dikembangkan bersama investor.

K-SIGN dirancang sebagai sentra produksi modern dengan target produktivitas mencapai 200 ton garam per hektare setiap tahun.

Esther menilai percepatan produksi garam nasional tidak cukup mengandalkan perluasan lahan, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi, infrastruktur, investasi, standardisasi, dan kemitraan.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa fondasi menuju swasembada sesungguhnya telah tersedia. Tantangannya adalah mempercepat proses tersebut melalui dukungan riset, demonstrasi teknologi, investasi, standardisasi, infrastruktur, serta kemitraan antara petambak, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri pengguna,” kata Esther.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026