
Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dengan pendekatan human-centric untuk memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam proses penciptaan karya kreatif di tengah perkembangan teknologi.
Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Dandy Yudha Feryawan mengatakan kehadiran AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam menghasilkan sebuah karya.
Menurut Dandy, karya yang dibuat dengan bantuan AI atau AI-assisted perlu dibedakan dengan karya yang sepenuhnya dihasilkan AI atau AI-generated.
"Penggunaan AI sebagai alat bantu tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas. Sebaliknya, hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manusia memberikan kontribusi kreatif dan memiliki kendali atas hasil akhirnya. AI bisa menghasilkan sesuatu, tetapi manusia yang menentukan apa yang paling berarti dari karya itu," ungkap Dandy.
Dengan pendekatan tersebut, penggunaan AI sebagai alat bantu tidak secara otomatis menghilangkan orisinalitas sebuah karya karena kontribusi kreatif dan kendali manusia terhadap hasil akhir menjadi faktor penting.
Kontribusi Manusia Jadi Unsur Penting
Dandy menilai pendekatan human-centric semakin penting karena pemanfaatan AI terus berkembang di 21 subsektor ekonomi kreatif.
Pemerintah perlu memastikan perkembangan teknologi AI berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap kreativitas dan hak para kreator.
Dalam konteks hak cipta, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 mendefinisikan pencipta sebagai seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.
Berdasarkan kerangka tersebut, kontribusi manusia menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan karakter dan autentisitas karya yang dibuat dengan memanfaatkan AI.
Kontribusi manusia dapat berbentuk ide yang mendasari penciptaan karya hingga berbagai pilihan kreatif yang dibuat selama proses pengerjaan.
Ekspresi dan pengalaman kreator juga dapat memberikan karakter manusia pada karya yang dibuat dengan memanfaatkan AI.
Selain itu, keputusan manusia dalam melakukan kurasi terhadap hasil yang dihasilkan AI menjadi bagian dari kontribusi kreatif.
Data Latih hingga Hak Cipta Jadi Tantangan
Dandy turut menyoroti sejumlah tantangan yang muncul bersamaan dengan perkembangan teknologi AI, termasuk penggunaan karya milik kreator sebagai data latih sistem AI.
Persoalan kepemilikan hak cipta atas karya yang melibatkan AI juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Tantangan lainnya adalah traceability atau kemampuan menelusuri sejauh mana keterlibatan manusia dalam proses penciptaan sebuah karya.
Kemampuan penelusuran tersebut semakin penting karena AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih cepat dan mudah.
"Hal ini menjadi semakin penting ketika AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih mudah serta cepat. Saat kemampuan teknis untuk menghasilkan karya mudah diakses, nilai manusia justru semakin terletak pada ide, perspektif, pengalaman, selera, konteks, dan kemampuan melakukan kurasi," ungkap Dandy.
Ketika kemampuan teknis untuk menghasilkan konten semakin mudah diakses melalui AI, kualitas ide dan perspektif kreator menjadi unsur pembeda dalam proses kreatif.
Pengalaman manusia juga memberikan konteks dan karakter terhadap karya, sedangkan selera kreatif, pemahaman konteks, serta kemampuan melakukan kurasi menjadi semakin penting ketika teknologi mampu mempercepat proses produksi.
AI Didorong Memperluas Kemampuan Kreator
Pemerintah bersama seluruh ekosistem ekonomi kreatif perlu menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan terhadap kreator.
Perkembangan AI tetap didorong agar memberikan manfaat bagi industri kreatif, sementara kreator membutuhkan perlindungan dan kepastian dalam menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi tersebut.
Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pemanfaatan teknologi berdasarkan prinsip creating with AI yang menempatkan AI sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia.
Melalui pendekatan tersebut, kreator dapat memanfaatkan AI untuk melakukan lebih banyak eksperimen dan meningkatkan kemampuan dalam berkarya tanpa menggantikan posisi manusia.
Manusia tetap ditempatkan sebagai pusat dari keseluruhan proses kreatif.
Melalui pendekatan human-centric dan creating with AI, pemanfaatan AI diharapkan meningkatkan produktivitas kreator sekaligus memperluas ruang eksplorasi dan eksperimen dalam menghasilkan karya.
Penggunaan AI juga diharapkan tetap mempertahankan ide, makna, nilai, pengalaman, serta karakter manusia sebagai unsur utama dalam setiap karya kreatif.
- Penulis :
- Arian Mesa




