
Pantau - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia meminta penerapan standardisasi industri tidak meminggirkan petani kecil dari rantai pasok komoditas pertanian karena keterbatasan akses terhadap pelatihan, teknologi, dan informasi pasar.
Penerapan standar mutu dan keberlanjutan dinilai lebih mudah dipenuhi perusahaan pertanian besar yang memiliki modal, tenaga ahli, serta infrastruktur memadai dibandingkan petani kecil.
"Masih banyak petani tidak memiliki akses ke pelatihan, informasi pasar terkini, atau alat-alat modern yang diperlukan untuk memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan pembeli besar," kata Chusnunia dalam keterangan di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Standardisasi yang diterapkan tanpa pendampingan dan dukungan memadai berpotensi menjadi hambatan baru bagi petani kecil untuk masuk dan bertahan dalam rantai pasok industri.
Biaya Sertifikasi Berpotensi Membebani Petani
Chusnunia menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai sustainability standards paradox, yakni ketika pelaku usaha besar lebih mudah memenuhi standar karena memiliki sumber daya yang lebih kuat.
Industrialisasi sektor pertanian juga diminta tidak membebani petani kecil dengan biaya sertifikasi maupun persyaratan lain yang sulit dipenuhi.
Petani kecil dinilai membutuhkan perhatian khusus karena memiliki peran besar dalam rantai pasok berbagai komoditas unggulan Indonesia.
Komisi VII DPR meminta pemerintah menyiapkan strategi untuk mencegah petani kecil semakin termarginalkan akibat penerapan standardisasi industri.
Koperasi Didorong Perkuat Daya Tawar Petani
Penguatan koperasi maupun kelompok tani menjadi salah satu langkah yang didorong untuk membantu petani berbagi biaya sertifikasi sekaligus meningkatkan daya tawar secara kolektif.
Pemerintah dan pelaku industri juga diminta menyusun standar yang lebih adaptif terhadap kemampuan petani lokal dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
"Agar sektor komoditas unggulan Indonesia dapat terus memberikan kebermanfaatan ekonomi, terutama bagi para smallholder (petani kecil) sebagai salah satu rantai pasok terbesar," ucap Chusnunia.
- Penulis :
- Aditya Yohan




