HOME  ⁄  Nasional

SDN 5 Pedungan Sulap Sampah Jadi Tabungan, Siswa Bisa Kantongi Hampir Rp1 Juta

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

SDN 5 Pedungan Sulap Sampah Jadi Tabungan, Siswa Bisa Kantongi Hampir Rp1 Juta
Foto: Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq bersama Pemkot Denpasar tinjau aktivitas bank sampah SDN 5 Pedungan, Denpasar, Bali, Kamis 10/9/2026 (sumber: ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Pantau - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Pedungan, Denpasar, memperkenalkan program Bank Sampah Gema Pelita yang dikelola secara produktif bersama para siswa kepada Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq.

Program yang berjalan sejak 2018 tersebut mampu mengurangi volume sampah harian di lingkungan sekolah sekitar 70 persen hingga 90 persen sekaligus menghasilkan tabungan bagi siswa.

Kepala SDN 5 Pedungan Ni Made Suciningsih menjelaskan kegiatan Bank Sampah Gema Pelita dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali atau paling lama satu kali dalam sebulan.

"Kami di SDN 5 Pedungan, nama program bank sampah adalah program Bank Sampah Gema Pelita, jadi program bank sampah ini memang rutin dilaksanakan dua minggu sekali, paling lama minimal sekali sebulan," ungkap Suciningsih.

Siswa Jadi Nasabah dan Penggerak Bank Sampah

Kegiatan penimbangan dan pengelolaan sampah digerakkan oleh kader siswa kelas 6 yang tergabung dalam Gema Gempita Ranger, sementara seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 menjadi nasabah Bank Sampah Gema Pelita.

Para siswa mengumpulkan berbagai jenis sampah bernilai ekonomi, mulai dari plastik, kertas, kardus, hingga botol yang berasal dari lingkungan sekolah maupun rumah masing-masing.

Pihak sekolah juga memberikan edukasi kepada orang tua atau wali siswa untuk berkolaborasi dengan anak dalam memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah yang dapat diterima bank sampah.

Menurut Suciningsih, antusiasme siswa terlihat dari volume sampah yang terkumpul serta semangat mereka mengikuti kegiatan di sekolah.

"Dilihat dari volume sampah dan semangatnya datang ke sekolah sangat antusias, karena mungkin ada hadiah yang diberikan oleh sekolah, hadiahnya baik berupa tabungan yang bisa diambil di kelas 6 saat tamat, dan hadiah dari sekolah ketika kenaikan kelas kami mencari siswa yang terbanyak memiliki tabungan sampah dapat hadiah," katanya.

Selain mendapatkan tabungan yang dapat diambil ketika menyelesaikan pendidikan di kelas 6, siswa dengan jumlah tabungan sampah terbanyak juga memperoleh hadiah dari sekolah saat kenaikan kelas.

Pengurangan sampah di sekolah turut didukung kebiasaan siswa membawa tumbler atau botol minum sendiri dengan memanfaatkan dispenser yang telah disediakan sekolah.

Para siswa juga dibiasakan membawa kotak bekal, piring, dan gelas plastik yang dapat digunakan berulang kali ketika berbelanja di kantin.

"Apalagi untuk botol-botol minuman itu kan anak-anak bawa tumbler, di sekolah juga sudah sediakan dispenser, itu kan mengurangi sampah-sampah air kemasan, anak-anak kalau belanja ke kantin sudah bawa kotak bekal, piring, dan gelas plastik yang memang sudah bisa dipakai berkali-kali," ungkap Suciningsih.

Sampah Jadi Tabungan, Saldo Siswa Bisa Mendekati Rp1 Juta

Pihak sekolah menjelaskan kepada Hanif bahwa sampah yang terkumpul secara rutin disalurkan kepada pihak ketiga, yakni Bali Wastu Lestari.

Sementara itu, sampah organik dikelola sendiri oleh sekolah menjadi eco enzyme yang kemudian dimanfaatkan untuk kebun sekolah.

Nilai tabungan siswa dihitung berdasarkan harga sampah sesuai standar vendor di seluruh Denpasar dengan nilai setiap kilogram yang bervariasi menurut jenis sampah.

Harga sampah tersebut mulai dari Rp100, Rp200, hingga puluhan ribu rupiah untuk jenis tertentu seperti aluminium dan botol plastik.

Suciningsih menyebut terdapat siswa yang memiliki saldo tabungan Rp52.000 dan Rp100.000, sedangkan tabungan yang dikumpulkan secara rutin dapat mendekati Rp1 juta saat siswa lulus kelas 6.

"Tadi ada Pak Wamen kan sudah langsung nanya ke muridnya, ada yang punya tabungan Rp52.000, ada yang punya Rp100.000, tetapi ketika dia tamat kelas 6 dia hampir Rp1 juta," kata Suciningsih.

Pencatatan tabungan dilakukan dengan sistem less paper melalui aplikasi Sidarling dan mesin pemindai yang disediakan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar.

Setiap siswa baru didaftarkan dalam sistem tersebut dan mendapatkan akun masing-masing sehingga secara tidak langsung didorong untuk membiasakan diri memilah serta mengumpulkan sampah.

Daika Menabung Sampah Sejak Kelas 2 SD

Salah satu siswi kelas 6B, Ni Kadek Daika Rania, mengaku telah rutin mengumpulkan sampah sejak masih duduk di kelas 2 SD dengan dukungan orang tuanya di rumah.

Daika antara lain menabung buku bekas berupa lembar kerja siswa (LKS), buku tulis, dan buku paket milik kakaknya.

"Tadi saya menabung buku bekas, yaitu LKS, buku tulis, dan buku paket kakak saya, biasanya memang mengikuti kalau ada, soalnya bisa bikin tabungan bertambah untuk pas lulus nanti," ungkap Daika.

Selain buku bekas, Daika biasa mengumpulkan kardus dan botol plastik untuk ditabung melalui program tersebut.

Meski telah mengikuti program selama bertahun-tahun, Daika mengaku belum melihat jumlah keseluruhan saldo tabungannya melalui aplikasi.

Menurut Daika, orang tuanya terus mendorong dirinya menabung sampah agar tabungannya semakin banyak dan memiliki uang lebih ketika lulus.

Saat bertemu Hanif, Daika juga mendapatkan pesan untuk tidak mengotori lingkungan dan selalu menjaga kebersihan.

"Kata orang tua katanya biar banyak tabungannya, biar punya uang lebih, tadi pas ketemu Pak Wamenko paling penting disuruh jangan mengotori lingkungan, harus jaga lingkungan agar bersih," katanya.

Wamenko Pangan Apresiasi Pengelolaan Sampah dari Sumber

Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi produktivitas SDN 5 Pedungan dalam menjalankan pengelolaan sampah sekaligus langkah Pemerintah Kota Denpasar dan jajaran sekolah dalam mendorong pemilahan sampah.

Hanif turut memuji upaya pemilahan sampah yang digerakkan secara masif mulai dari tingkat rumah tangga, hotel, hingga lingkungan sekolah.

Dalam kunjungannya, Hanif secara acak bertanya kepada sejumlah siswa mengenai keberadaan teba modern atau bag composter di tempat tinggal mereka.

Menurut Hanif, hampir seluruh siswa yang ditanya mengaku telah memiliki fasilitas tersebut sehingga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.

"Secara acak tadi saya mencoba tanya adik-adik tinggal di mana, apakah sudah ada teba modern atau bag composter, ternyata hampir semuanya menjawab sudah, artinya keseriusan pemerintah ini tentu menjadi langkah besar," kata Hanif.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026