
Pantau - Lembaga Southeast Asian Ministers of Education Organization-Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-RECFON) menyiapkan rekomendasi mengenai kondisi gizi anak usia sekolah di Indonesia untuk disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Rekomendasi tersebut secara khusus menyoroti persoalan kekurangan zat gizi mikro atau micronutrient deficiency berdasarkan penelitian terhadap 4.292 siswa di 12 kabupaten/kota.
Direktur SEAMEO-RECFON Rini Sekartini mengatakan hasil penelitian tersebut akan menjadi salah satu bahan yang disampaikan kepada BGN dalam rencana lembaganya untuk lima tahun ke depan.
“Dari pertemuan wali amanat ini, kami punya salah satunya adalah rencana lima tahun ke depan. Nah, ini adalah salah satu yang akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional. Temuan ini memberikan perspektif penting bagi penguatan program Makan Bergizi Gratis (MB) dan kebijakan gizi sekolah, yakni makanan yang diberikan kepada anak tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga harus mampu menjawab kesenjangan zat gizi yang spesifik berdasarkan usia dan konteks,” ungkap Rini.
Kekurangan Folat Dominan pada Murid
SEAMEO-RECFON melakukan penelitian dengan mengombinasikan wawancara mengenai asupan makanan menggunakan metode recall 24 jam dan pemeriksaan biomarker melalui laboratorium.
Hasil penelitian menunjukkan kekurangan folat menjadi salah satu persoalan dominan yang ditemukan pada murid di setiap jenjang pendidikan.
Pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), defisiensi gizi didominasi kekurangan asupan folat.
Selain folat, sebanyak 44 persen murid SMP ditemukan mengalami kekurangan kalsium.
Penelitian juga menemukan kekurangan vitamin C dan seng pada murid tingkat SMP.
Pada jenjang sekolah menengah atas (SMA), persoalan kekurangan folat, kalsium, dan vitamin C kembali ditemukan.
Menurut Rini, temuan tersebut memberikan perspektif penting dalam memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebijakan gizi di lingkungan sekolah.
Pemberian makanan kepada anak dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga perlu mengatasi kesenjangan zat gizi tertentu berdasarkan usia dan kondisi anak.
Riset Bukan Evaluasi Program MBG
SEAMEO-RECFON menegaskan penelitian mengenai defisiensi gizi tersebut bukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG yang dijalankan pemerintah.
Deputi Direktur Program SEAMEO-RECFON Brian Sri Prahastuti menjelaskan penelitian tersebut telah dilakukan beberapa tahun sebelum program MBG mulai dijalankan di Indonesia.
“Studi yang dilakukan oleh SEAMEO RECFON ini memang dilakukan beberapa tahun yang lalu sebelum Program Makan Bergizi Gratis itu dijalankan oleh Pemerintah Indonesia,” kata Brian.
Karena dilakukan sebelum program MBG berjalan, penelitian tersebut hanya memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi gizi murid di Indonesia.
Hasil penelitian itu tidak dimaksudkan untuk menilai keberhasilan maupun kekurangan dalam pelaksanaan program MBG oleh pemerintah.
“Poin kami di sini adalah kami tidak dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan program MBG dari pemerintah,” ungkap Brian.
Temuan mengenai kekurangan sejumlah zat gizi mikro tersebut diharapkan menjadi masukan bagi BGN dalam memperkuat implementasi program MBG agar pemberian makanan turut menjawab kebutuhan zat gizi spesifik pada anak usia sekolah.
- Penulis :
- Arian Mesa




