
Pantau - Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banten bersama tim SAR gabungan menemukan satu life jacket atau rompi pelampung tanpa identitas dalam operasi pencarian jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Pandeglang, sejak Senin, 7 September.
Rompi pelampung tersebut ditemukan di perairan sebelah barat Anyer, tetapi tim belum dapat memastikan keterkaitannya dengan speed boat maupun korban yang sedang dicari.
Komandan Lanal (Danlanal) Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan seluruh barang yang ditemukan harus melalui proses identifikasi sebelum tim menyampaikan kesimpulan.
Rompi Pelampung Ditemukan 7,05 Mil Laut dari Anyer
Lanal Banten bersama tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran secara intensif sekaligus mendalami sejumlah barang yang ditemukan di perairan barat Anyer.
Barang yang ditemukan tim KAL Anyer akan dikumpulkan dan diidentifikasi terlebih dahulu karena lokasi penemuannya cukup jauh dari titik kejadian.
"Untuk temuan tim KAL Anyer saat ini masih akan dilaksanakan identifikasi terlebih dahulu. Jadi, untuk kejelasannya mohon dari rekan-rekan menunggu, mengingat posisinya penemuan tersebut cukup jauh dari lokasi kejadian," ungkap Wawan.
Selain satu life jacket, tim di lapangan menemukan sebuah barang menyerupai tabung atau botol berwarna putih.
Barang tersebut dinilai menyerupai perlengkapan yang masih umum digunakan nelayan setempat sehingga belum dapat dipastikan berasal dari kapal atau korban yang sedang dicari.
"Di lokasi yang ditemukan itu baru satu buah life jacket tanpa identitas dan satu buah botol tabung putih yang sepertinya hal itu masih umum digunakan oleh nelayan. Jadi, kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban," kata Wawan.
Posisi penemuan life jacket berada di sisi barat wilayah Anyer dengan jarak sekitar 7,05 nautical mile di perairan.
Adapun jarak antara titik kontak terakhir atau last known position dengan lokasi penemuan barang diperkirakan berkisar 10 hingga 12 nautical mile.
Seluruh barang yang ditemukan selama operasi akan dikumpulkan di posko utama untuk menjalani proses identifikasi secara komprehensif.
Identifikasi dilakukan untuk memastikan keterkaitan barang dengan korban sekaligus mencegah munculnya spekulasi atau informasi keliru mengenai operasi pencarian.
"Kepastiannya kita akan kumpulkan seluruh temuan dari rekan-rekan di lapangan di posko untuk identifikasi terlebih dahulu, sebelum kita merilis apakah itu benar temuan berkaitan barang milik korban atau bukan. Jadi, kita tidak akan membuat statement yang memicu keraguan atau spekulasi yang bersifat liar," tegas Wawan.
Lanal Banten juga berencana mengonfirmasi karakteristik barang temuan kepada pihak penyewa kapal untuk mencocokkannya dengan perlengkapan kapal maupun barang milik korban.
Pencarian Udara Belum Temukan Tanda Keberadaan Korban
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan pencarian melalui udara pada Kamis belum menemukan tanda-tanda keberadaan jurnalis yang hilang kontak.
Syafii turut memantau operasi menggunakan pesawat, sedangkan hasil keseluruhan pencarian masih akan dihimpun berdasarkan laporan enam sektor di lapangan.
"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat. Tapi hasil operasi hari ini tentunya dari laporan enam sektor yang ada di lapangan dan itu nanti akan dilaporkan ke posko gabungan," kata Syafii.
Berdasarkan pemantauan udara, Basarnas juga belum melihat tanda-tanda keberadaan korban di daratan pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, operasi SAR dipastikan masih berlangsung dan pencarian belum dihentikan.
"Kami memastikan bahwa proses pencarian di lapangan masih terus berjalan dan belum dihentikan. Operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang ketat dengan instansi terkait, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," ungkap Syafii.
Tim SAR akan melaksanakan pencarian secara intensif selama tujuh hari sesuai standar pedoman internasional IAMSAR Guidelines.
Pola operasi SAR akan terus disesuaikan dengan pemutakhiran data ilmiah yang diperoleh dari PVMBG dan BMKG.
Cuaca dan Aktivitas Vulkanik Jadi Tantangan Pencarian
Tim di lapangan menghadapi tantangan kondisi cuaca, termasuk keterbatasan jarak pandang akibat kabut asap.
Kabut asap tersebut dapat berasal dari kebakaran maupun aktivitas vulkanik pada ketinggian di bawah 1.500 meter.
Sementara itu, abu vulkanik pada ketinggian lebih tinggi dilaporkan telah bergerak menuju Samudra Hindia pada ketinggian di atas 50.000 kaki.
Keselamatan personel tetap menjadi prioritas sebelum tim darat diturunkan langsung ke pulau yang menjadi sasaran pencarian.
Pada hari ketujuh operasi, tim SAR akan menggelar rapat evaluasi untuk menentukan kelanjutan pencarian dengan melibatkan PVMBG, BMKG, dan tim medis.
"Sesuai standar, pada hari ketujuh nanti kita akan melaksanakan rapat evaluasi yang melibatkan semuanya, baik itu PVMBG, teman-teman BMKG, hingga tim medis untuk membahas kelanjutan operasi ini," kata Syafii.
- Penulis :
- Shila Glorya




