HOME  ⁄  Nasional

Tim Universitas Brawijaya Kenalkan Kompor Biomassa untuk Bantu Warga Sorong Hadapi Keterbatasan Bahan Bakar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tim Universitas Brawijaya Kenalkan Kompor Biomassa untuk Bantu Warga Sorong Hadapi Keterbatasan Bahan Bakar
Foto: (Sumber :Anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya menberikan edukasi dan memperagakan penggunaan kompor biomassa kepada warga di kawasan transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. (ANTARA/HO-Kementerian Transmigrasi).)

Pantau - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi dari Universitas Brawijaya mengenalkan kompor biomassa kepada warga kawasan transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, sebagai alternatif ketika akses minyak tanah dan gas terbatas. 

Program tersebut tidak hanya mengenalkan cara penggunaan kompor biomassa, tetapi juga membagikan sejumlah unit kepada warga lokal dan transmigran yang mengikuti pelatihan atau telah memiliki usaha.

"Selanjutnya, kami tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga membagikan unit kompor biomassa secara terbatas dengan prioritas bagi warga lokal dan transmigran yang bersedia dilatih atau sudah memiliki wirausaha," kata anggota TEP Universitas Brawijaya, Yogi.

Kompor tersebut dapat menggunakan bahan bakar yang relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, seperti kayu, arang, serbuk gergaji, dan batok kelapa.

Kompor Biomassa Jadi Alternatif Bahan Bakar

Pemanfaatan biomassa diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap minyak tanah sekaligus memanfaatkan bahan bakar yang tersedia di lingkungan sekitar.

Pelaku UMKM setempat, Ulike, mengatakan sebagian masyarakat di Sorong masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh minyak tanah maupun gas.

"Ada juga gas, tapi gas terbatas. Ada orang-orang di atas yang bisa jangkau, tapi masyarakat ke bawah terkadang sulit. Jadi, pengadaan kompor ini bagi saya sangat baik dan sangat bagus. Saya percaya akan sangat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," ujar Ulike.

Program pengenalan kompor biomassa dan pendampingan usaha tersebut dilaksanakan di empat titik serta telah menjangkau puluhan warga, termasuk masyarakat lokal di Distrik Klasafet.

TEP Universitas Brawijaya juga mendampingi masyarakat mengolah talas dan pisang menjadi keripik untuk meningkatkan nilai jual komoditas lokal sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan.

Produk olahan pangan masyarakat bersama inovasi kompor biomassa telah diperkenalkan dalam dua pameran UMKM daerah di Kabupaten Sorong sebagai upaya memperluas akses pasar.

Kios Hilirisasi Disiapkan untuk Warga

TEP Universitas Brawijaya bersama masyarakat juga menyiapkan rintisan kios hilirisasi sebagai titik distribusi kompor biomassa dan akses air bersih.

Kios tersebut direncanakan menjadi tempat menampung produk olahan masyarakat untuk kemudian dipasarkan di lingkungan lokal hingga kawasan perkotaan.

Kementerian Transmigrasi menempatkan TEP sebagai salah satu instrumen untuk memetakan kebutuhan dan potensi kawasan secara langsung sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan transmigrasi.

"Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan," ucap Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Kementerian Transmigrasi sebelumnya melepas 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim pada Juli 2026 untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi.

Program TEP 2026 diarahkan untuk melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi sekaligus menjalankan aksi nyata serta mengembangkan industri berbasis potensi lokal di kawasan transmigrasi.

Di Kabupaten Sorong, pemerintah daerah pada Agustus 2026 juga mengusulkan pembangunan dua satuan permukiman transmigrasi lokal di Klamono dan Segun, yakni SP Klagulus dan SP Klafotom, yang masing-masing direncanakan memiliki sekitar 100 unit rumah dengan prioritas bagi masyarakat asli Papua pemilik hak ulayat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026