HOME  ⁄  Nasional

Kemendikdasmen Nilai Pembelajaran STEAM Membekali Murid SMK Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemendikdasmen Nilai Pembelajaran STEAM Membekali Murid SMK Hadapi Perubahan Dunia Kerja
Foto: Tangkapan layar-Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni menyampaikan pesan kunci dalam webinar bertajuk STEAM: Dari Imajinasi, Inovasi hingga Prestasi di Jakarta Pusat pada Jumat 11/9/2026 (sumber: ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban)

Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai pembelajaran sains, teknologi, engineering, seni (arts), dan matematika atau STEAM menjadi bekal penting bagi murid SMK untuk menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung cepat.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni mengatakan perubahan dunia kerja membuat keterampilan yang dibutuhkan pekerja terus berubah.

“Dunia kerja bergerak sangat cepat. World Economic Forum (WEF) memperkirakan 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja akan menjadi usang pada periode 2025-2030,” kata Maila dalam webinar bertajuk "STEAM: Dari Imajinasi, Inovasi hingga Prestasi" di Jakarta pada Jumat.

Perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap kemampuan baru, termasuk kecakapan menggunakan kecerdasan buatan atau AI serta literasi data dan teknologi, semakin meningkat.

Selain keterampilan teknologi, dunia kerja juga semakin membutuhkan kemampuan berpikir kreatif, ketangguhan, dan kemauan untuk terus belajar.

Murid SMK Perlu Kemampuan Belajar Berkelanjutan

Maila mengatakan murid SMK saat ini tidak cukup hanya menguasai kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja pada masa sekarang, tetapi juga harus mampu terus belajar secara berkelanjutan.

Kemampuan tersebut diperlukan karena perkembangan teknologi dan perubahan cara kerja berlangsung sangat cepat.

Kondisi itu sejalan dengan laporan World Economic Forum yang menyebutkan sebanyak 85 persen perusahaan akan memprioritaskan peningkatan keterampilan atau upskilling tenaga kerja hingga 2030.

“Bagi murid SMK, sertifikat kompetensi adalah bekal awal. Sementara pembelajaran dengan pendekatan STEAM melatih kebiasaan para murid dalam mempelajari alat baru, membaca data, menerima umpan balik, dan memperbaiki hasil,” imbuhnya.

Pendekatan STEAM dinilai dapat membiasakan murid SMK beradaptasi ketika menghadapi peralatan dan teknologi baru.

Melalui pendekatan tersebut, murid juga dilatih membaca dan memanfaatkan data, menerima umpan balik, serta memperbaiki hasil pekerjaannya.

Maila mengatakan STEAM relevan dengan kebutuhan industri karena persoalan di dunia kerja tidak terbagi secara terpisah berdasarkan mata pelajaran.

Penyelesaian persoalan di dunia kerja membutuhkan kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.

Pengembangan kendaraan listrik menjadi salah satu contoh bidang yang membutuhkan penguasaan berbagai ilmu secara terintegrasi.

Kebutuhan serupa juga terdapat pada bidang otomasi, pertanian cerdas, energi terbarukan, film, hingga teknologi Extended Reality (XR).

Berbagai bidang tersebut membutuhkan perpaduan pengetahuan dan keterampilan dari sejumlah disiplin ilmu untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.

“Industri memerlukan lulusan yang mampu bekerja bersama dan menghasilkan solusi yang berfungsi, aman, efisien, serta sesuai dengan kebutuhan pengguna,” ucap Maila.

Bengkel hingga Dapur Jadi Laboratorium STEAM di SMK

Berdasarkan kebutuhan tersebut, Maila menilai pendekatan STEAM memiliki kedekatan dengan karakter pendidikan SMK yang selama ini menekankan praktik dan pembuatan karya.

SMK bahkan dinilai telah memiliki bentuk nyata laboratorium STEAM melalui fasilitas pembelajaran yang digunakan sehari-hari, mulai dari bengkel, dapur, studio, tempat praktik kerja lapangan, hingga teaching factory.

Dalam pembelajaran di dapur, misalnya, murid dapat mengintegrasikan pemahaman mengenai bahan, proses, dan takaran dengan penggunaan teknologi, penyajian produk, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

Dalam pembelajaran di bengkel, ilmu sains dapat bertemu secara langsung dengan teknik dan pengukuran sekaligus mengintegrasikan aspek keselamatan, kreativitas, dan desain.

Pada bidang tata busana, murid memadukan fungsi bahan, ukuran, estetika, dan kebutuhan konsumen untuk menghasilkan sebuah karya.

Berbagai contoh tersebut menunjukkan penerapan STEAM dalam pendidikan SMK dapat berlangsung melalui aktivitas praktik yang menghasilkan produk atau karya nyata.

“Ketika semua unsur itu disatukan dalam karya, STEAM menjadi kemampuan untuk mencipta. Inilah kekuatan lulusan SMK,” ujarnya.

Maila menegaskan lulusan SMK memiliki keunggulan karena tidak hanya memahami konsep yang berkaitan dengan STEAM, tetapi juga mempunyai kesempatan mempraktikkan pengetahuan tersebut secara langsung dan menghasilkan karya.

“Teman-teman SMK memahami, mempraktikkan, dan membuat sains, teknologi, engineering, dan matematika dalam bentuk yang sesungguh-sungguhnya,” kata Maila.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026