
Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat transformasi pendidikan di sejumlah sekolah melalui budaya literasi, numerasi, serta integrasi pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berbasis kompetensi PISA (Program for International Student Assessment).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan peningkatan kualitas pendidikan terus dilakukan melalui pendekatan Belajar Mendalam agar proses pembelajaran menjadi lebih sadar (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).
Transformasi tersebut juga didukung peningkatan kompetensi guru dalam bidang kecerdasan artifisial (AI), coding, STEM, dan pendidikan karakter.
Kemendikdasmen turut memperkuat tata kelola data pendidikan, revitalisasi satuan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang lebih interaktif.
SMPN 9 Yogyakarta Terapkan Pembelajaran Berbasis PISA
Kepala SMPN 9 Yogyakarta Agus Margono mengatakan sekolahnya menjalankan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang berfokus pada peningkatan kemampuan murid berdasarkan kompetensi PISA.
"Kami menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang berfokus pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi murid berbasis PISA. Program ini diwujudkan melalui pengintegrasian soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam asesmen harian, penguatan pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM," kata Agus Margono.
Agus mengatakan penerapan program tersebut memberikan perubahan pada pola pikir dan kemampuan kritis murid dalam menghadapi berbagai persoalan.
Murid tidak lagi sekadar menghafal materi, tetapi didorong menganalisis persoalan lingkungan dan sosial di sekitarnya menggunakan pendekatan logis dan matematis.
"Ini berdampak langsung pada peningkatan skor capaian Asesmen Nasional pada indikator Literasi dan Numerasi sekolah, serta peningkatan jumlah murid yang meraih prestasi dalam kompetisi sains dan teknologi," kata Agus.
SMPN 9 Yogyakarta juga meningkatkan kapasitas guru melalui Komunitas Belajar internal dan in-house training mengenai modul ajar interaktif serta mendorong kolaborasi mata pelajaran IPA, Matematika, dan Informatika.
"Sekolah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pendampingan sebaya antarguru untuk mengatasi tantangan keberagaman tingkat kesiapan awal murid serta perubahan pola mengajar dari metode konvensional," kata Agus.
SMAN 5 Yogyakarta Integrasikan Literasi dalam Asesmen
SMAN 5 Yogyakarta menjalankan kegiatan Literasi Terpadu yang mencakup literasi digital, budaya dan kewargaan, sains, finansial, serta numerasi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 5 Yogyakarta Rizky Puspitadewi mengatakan penguatan literasi tidak hanya dilakukan melalui pembiasaan mingguan, tetapi juga diintegrasikan secara sistematis dalam evaluasi pembelajaran.
Sekolah menerapkannya melalui pembiasaan menulis dan mengerjakan soal berbasis literasi serta numerasi dalam setiap Asesmen Sekolah.
"Dampak nyata dari konsistensi penerapan program literasi dan pembiasaan asesmen tersebut terlihat pada indikator Rapor Pendidikan Sekolah, di mana capaian pada domain Literasi dan Numerasi berhasil mencatatkan, serta mempertahankan angka terbaik secara konsisten," kata Dewi.
Peningkatan kompetensi guru turut dilakukan melalui pelatihan Implementasi Pembelajaran STEM, Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial.
"Selain peningkatan kompetensi pedagogis dan teknis, sekolah secara konkret mendukung operasionalisasi di kelas dengan menyediakan berbagai media pembelajaran serta bahan ajar pendukung yang relevan untuk proyek-proyek STEM," kata Dewi.
Sekolah Perkuat Kemampuan dan Karakter Siswa
SMAN 5 Yogyakarta juga mengembangkan soft skills dan karakter siswa melalui kegiatan kokurikuler serta ekstrakurikuler.
Pada kegiatan kokurikuler, siswa mengikuti proyek bertema Rekayasa & Teknologi serta Inovasi Kewirausahaan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Siswa juga mengikuti sesi brainstorming bersama narasumber yang memiliki pengalaman di bidang terkait untuk mengembangkan berbagai gagasan.
Sementara itu, kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Klub Robotik menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berinovasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




