
Pantau - Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Junaidi Auly menegaskan nilai-nilai luhur Pancasila selaras dengan ajaran Islam dan menjadi dasar kehidupan berbangsa yang harus terus dijaga masyarakat Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Junaidi dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Junaidi mengatakan lahirnya rumusan Pancasila tidak terlepas dari kebesaran jiwa para pejuang dan ulama Islam yang terlibat dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Menurut dia, para tokoh tersebut mengikhlaskan penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga persatuan Indonesia.
“Tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan syariat Islam; mulai dari prinsip tauhid di sila pertama hingga penegakan keadilan sosial di sila kelima. Pancasila sudah final dan harus terus kita bentengi bersama,” katanya dikutip dari keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Junaidi Soroti Peran Ulama dalam Menjaga NKRI
Selain membahas Pancasila, Junaidi menyoroti sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan peran Mohammad Natsir melalui Mosi Integral 1950.
Ia menyebut Mosi Integral 1950 berperan dalam pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS) dan mengembalikan Indonesia ke dalam bentuk negara kesatuan.
Junaidi mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan peran ulama dalam perjalanan sejarah bangsa dan pembentukan kembali NKRI.
"Jangan hanya ingat semboyan 'Jas Merah' atau jangan sekali-kali melupakan sejarah, tetapi ingat juga 'Jas Hijau', yakni jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama. Sejarah membuktikan bahwa ulama besarlah yang memulihkan bentuk kesatuan Republik Indonesia," katanya.
Keberagaman Harus Berpijak pada Nilai Ketuhanan
Junaidi juga membahas Bhinneka Tunggal Ika sebagai salah satu bagian penting dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
Ia berpandangan keberagaman masyarakat Indonesia harus tetap berpijak pada fondasi moralitas dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Junaidi turut mengingatkan masyarakat agar mewaspadai agenda asing yang menurutnya mengatasnamakan kebhinekaan tetapi bertolak belakang dengan norma agama serta kepribadian bangsa, termasuk propaganda LGBTQ.
"Indonesia memegang teguh nilai-nilai ketuhanan. Penolakan kita terhadap hal tersebut berlandaskan aturan agama dan konstitusi demi menjaga moral serta keselamatan generasi penerus bangsa," ucapnya.
Sosialisasi Empat Pilar Diikuti Sekitar 300 Peserta
Agenda Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut diselenggarakan Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI bekerja sama dengan Komunitas Biru Nusantara (Kobinus).
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 300 peserta yang didominasi kaum perempuan dan tenaga pendidik dari berbagai latar belakang suku serta daerah.
Melalui kegiatan itu, Junaidi berharap peserta tidak hanya menghafal teks Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Ia juga berharap pemahaman tersebut dapat diteruskan kepada masyarakat serta diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
- Penulis :
- Gerry Eka




