HOME  ⁄  Nasional

Akademisi Unand Kembangkan Sensor Akustik untuk Mendeteksi Kualitas Biji Kedelai secara Lebih Objektif

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Akademisi Unand Kembangkan Sensor Akustik untuk Mendeteksi Kualitas Biji Kedelai secara Lebih Objektif
Foto: Pendugaan mutu biji kedelai yang umum dilakukan oleh tengkulak di tingkat petani masih mengandalkan penilaian berdasarkan indera manusia, yang memiliki keterbatasan dalam menghasilkan penilaian yang objektif dan konsisten.

Pantau - Akademisi Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, mengembangkan teknologi pendeteksi kualitas biji kedelai menggunakan sensor gelombang suara atau akustik yang mampu mengenali karakteristik biji berdasarkan tingkat kadar air.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu menghasilkan pemeriksaan kualitas kedelai yang lebih terukur sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penilaian manual menggunakan indera manusia.

Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Unand Khairil Agustoria mengatakan perbedaan kadar air pada kedelai menghasilkan respons suara yang berbeda.

"Respons akustik yang muncul dari biji kedelai mengalami perubahan seiring dengan perbedaan kadar air. Hal ini menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik biji," kata Khairil di Padang, Sabtu (12/9/2026).

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengamati karakteristik suara yang muncul ketika biji kedelai mengalami benturan dan kemudian menghubungkan hasilnya dengan kondisi kadar air pada biji.

Sensor Merekam Suara dari Benturan Biji Kedelai

Khairil menjelaskan biji kedelai dijatuhkan hingga membentur sebuah pelat sehingga menghasilkan suara yang kemudian direkam menggunakan sensor.

Sistem yang dikembangkan memanfaatkan mesin sortasi, mikrokontroler, dan sensor suara untuk menangkap respons akustik dari biji kedelai.

"Ketika biji kedelai dijatuhkan dan mengalami tumbukan pada sebuah pelat, muncul respons suara yang dapat ditangkap oleh sensor. Sistem yang dikembangkan menggunakan mesin sortasi, mikrokontroler, dan sensor suara untuk merekam respons akustik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kadar air pada biji kedelai diikuti perubahan nilai amplitudo suara yang terdeteksi sensor," ujarnya.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan kadar air pada kedelai diikuti oleh perubahan nilai amplitudo suara yang dapat dikenali sensor.

Pemanfaatan data akustik tersebut dinilai membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemeriksaan manual yang berpotensi menghasilkan penilaian berbeda antara satu orang dan orang lainnya.

Metode manual juga memiliki keterbatasan dari sisi kecepatan ketika produk pertanian yang harus diperiksa mencapai ribuan bahkan jutaan butir.

Teknologi Bisa Dikombinasikan dengan Kamera dan Komputer

Khairil mengatakan teknologi sensor akustik masih dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkannya bersama teknologi pengukuran lainnya.

Kamera dapat dimanfaatkan untuk mengenali warna dan bentuk, sedangkan sensor lainnya dapat digunakan untuk mengukur kadar air sebelum seluruh informasi diolah melalui sistem komputer.

Penggabungan berbagai data tersebut diharapkan membantu meningkatkan proses identifikasi karakteristik hasil pertanian secara lebih terukur.

"Data yang diperoleh dari sensor dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi hasil pertanian. Jadi, teknologi ini bukan sekadar membuat proses pemeriksaan lebih cepat, tetapi juga membantu menghasilkan penilaian yang lebih objektif," ujarnya.

Pemanfaatan sensor dan pengolahan data tersebut tidak hanya diarahkan untuk mempercepat pemeriksaan, tetapi juga menghasilkan informasi mengenai kondisi produk pertanian secara lebih konsisten.

Ketergantungan Indonesia terhadap Kedelai Impor Masih Tinggi

Pengembangan teknologi pendeteksi kualitas tersebut berlangsung ketika kebutuhan kedelai Indonesia masih banyak dipenuhi melalui pasokan dari luar negeri.

Khairil mengatakan produksi kedelai dalam negeri hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

"Pada periode 2019–2023, porsi impor kedelai berada pada kisaran 94,64–97,66 persen, sedangkan produksi dalam negeri pada 2024, hanya memenuhi sekitar 13,5 persen kebutuhan nasional," kata dia.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat membantu mempercepat proses pengukuran, pengelompokan, dan pengelolaan hasil pertanian berdasarkan karakteristik yang dapat diukur.

Proses tersebut berpotensi mendukung peningkatan nilai ekonomi produk melalui pengelolaan mutu yang lebih terukur.

Sensor Masih Memerlukan Kalibrasi dan Pengujian Lapangan

Khairil mengatakan pengembangan teknologi pertanian tidak berhenti pada pembuatan mesin karena perangkat juga harus menjalani pengujian dan penyesuaian sebelum dapat diterapkan secara efektif di lapangan.

Respons akustik biji kedelai tidak hanya dipengaruhi kadar air, tetapi juga dipengaruhi ukuran dan massa setiap biji.

Kondisi tersebut membuat teknologi pendeteksi membutuhkan proses kalibrasi sensor, pengolahan data, pelatihan algoritma, serta pengujian dalam kondisi nyata.

Selain kesiapan teknis, penerapan teknologi juga perlu mempertimbangkan biaya serta keterampilan pengguna agar perangkat dapat dimanfaatkan secara efektif oleh petani.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026