HOME  ⁄  Nasional

Lestari Moerdijat Dorong Kebijakan Pendidikan Berkelanjutan untuk Perkuat Literasi dan Numerasi Anak Bangsa

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Lestari Moerdijat Dorong Kebijakan Pendidikan Berkelanjutan untuk Perkuat Literasi dan Numerasi Anak Bangsa
Foto: (Sumber :Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya kebijakan pendidikan berkelanjutan untuk memperkuat literasi dan numerasi anak bangsa.)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong kebijakan pendidikan yang konsisten dan berkelanjutan untuk memperkuat literasi, numerasi, serta integrasi science, technology, engineering, and mathematics (STEM) berbasis kompetensi PISA di Indonesia.

Lestari menilai program yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut harus diikuti pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan secara berkelanjutan agar tidak berhenti sebagai wacana.

“Kebijakan pendidikan yang baik, tidak cukup hanya diumumkan. Yang menentukan adalah apakah ia konsisten dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).

Rerie, sapaan Lestari, menyampaikan pandangan tersebut menanggapi langkah Kemendikdasmen dalam membagikan praktik transformasi pendidikan melalui penguatan budaya literasi, numerasi, dan pendekatan STEM berbasis PISA di sejumlah sekolah.

Literasi dan Numerasi Masih Jadi Tantangan

Anggota Komisi X DPR RI itu menyoroti persoalan literasi dan numerasi yang dinilai masih menjadi tantangan mendasar dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional.

Berdasarkan data Asesmen Nasional 2025 yang disampaikan Lestari, baru 55,7 persen siswa sekolah dasar mencapai batas minimum kompetensi literasi membaca.

Sekitar 50 persen siswa Indonesia secara umum juga disebut belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa persoalan kualitas pembelajaran belum sepenuhnya teratasi. Akses pendidikan memang penting, tetapi kualitas juga harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Lestari juga menyoroti perkembangan skor PISA Indonesia yang mengalami peningkatan pada bidang sains dan membaca, tetapi mengalami penurunan pada matematika dibandingkan periode PISA 2022.

Skor sains Indonesia disebut naik enam poin menjadi 389 dan skor membaca meningkat enam poin menjadi 365, sedangkan matematika turun dua poin menjadi 364.

“Kenaikan di beberapa bidang perlu diapresiasi, tetapi penurunan di matematika menjadi catatan merah yang harus direspons serius,” ujarnya.

Kapasitas Guru dan Kesenjangan Digital Disorot

Lestari menekankan penguatan kapasitas guru harus menjadi program berkelanjutan agar transformasi pendidikan benar-benar berdampak pada proses pembelajaran di kelas.

“Pelatihan guru dalam komunitas belajar, pembelajaran STEM, coding, dan kecerdasan artifisial harus benar-benar sampai ke kelas dan memberikan dampak pada cara mengajar,” ujar Rerie.

Ia juga mendorong program literasi dan numerasi diintegrasikan secara sistematis ke dalam asesmen dan kurikulum sehingga pelaksanaannya tidak bergantung pada kepala sekolah maupun guru tertentu.

“Yang harus dijamin adalah keberlanjutan praktik baik ini. Jangan sampai hanya bergantung pada sosok kepala sekolah atau guru tertentu. Sistemnya harus kuat,” ujarnya.

Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu turut menyoroti kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang dapat menghambat transformasi pendidikan berbasis teknologi.

Berdasarkan data BPS yang disampaikannya, kepemilikan komputer atau laptop untuk keperluan belajar di perkotaan mencapai 65 persen, sedangkan di perdesaan sekitar 28 persen.

“Ketimpangan ini akan menghambat transformasi yang berbasis teknologi. Diperlukan intervensi khusus untuk daerah-daerah tertinggal,” tegasnya.

Transformasi Pendidikan Butuh Dukungan Menyeluruh

Lestari turut mengapresiasi pendekatan Belajar Mendalam yang diarahkan untuk menciptakan proses pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan.

Namun, ia menilai penerapan pendekatan tersebut harus didukung sumber daya yang memadai, mulai dari bahan ajar dan media pembelajaran hingga kesejahteraan guru.

“Tanpa dukungan menyeluruh, perubahan pendekatan hanya akan membebani guru di lapangan,” ujar Rerie.

Menurutnya, penguatan nalar kritis generasi penerus membutuhkan kolaborasi pemerintah, sekolah, masyarakat, dan orang tua.

“Literasi dan numerasi bukan sekadar target asesmen. Ini adalah fondasi daya saing bangsa. Kita harus konsisten, sabar, dan serius menjalankannya,” pungkas Rerie.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026