
Pantau - Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI Johan Rosihan mengajak generasi muda mengambil peran nyata dalam pembangunan bangsa dan tidak sekadar menjadi penonton perjalanan Indonesia.
Johan menilai anak muda merupakan generasi terbaru yang menerima estafet perjuangan Indonesia dari generasi sebelumnya sehingga memiliki tanggung jawab membawa bangsa ke kondisi yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan Johan dalam Sarasehan Kebangsaan bersama Garuda Keadilan Jakarta Selatan (GK Seljak) melalui talkshow bertajuk “Aku, Kamu & Indonesia Hari Ini” di Jakarta Selatan, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut turut menghadirkan aktivis muda sekaligus Ketua BEM UGM 2019, M. Atiatul Muqtadir.
“Perjalanan Indonesia bisa kita ibaratkan seperti lari estafet. Kita tidak memulai perlombaan ini dari garis start. Para pendiri bangsa telah memulainya, kemudian setiap generasi menerima tongkat itu, berlari pada zamannya, lalu menyerahkannya kepada generasi berikutnya,” kata Johan.
Anak Muda Didorong Ubah Kritik Menjadi Aksi
Menurut Johan, setiap generasi menghadapi tantangan berbeda sehingga bentuk perjuangan yang dilakukan juga tidak harus sama dengan generasi pada masa sebelumnya.
“Generasi kita tidak diminta mengulangi apa yang dilakukan generasi 1928 atau 1945. Tantangannya sudah berbeda. Tetapi semangatnya sama: apa yang bisa kita kerjakan agar ketika tongkat estafet itu kita serahkan, Indonesia berada dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya,” ujarnya.
Ia menilai negara tidak hanya perlu meminta anak muda memahami persoalan kebangsaan, tetapi juga harus memahami keresahan, aspirasi, bahasa, serta perubahan cara berpikir generasi muda.
“Jangan hanya meminta anak muda memahami negara. Negara juga harus belajar memahami anak muda. Ruangnya bukan sekadar mengundang mereka hadir, tetapi memberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berkolaborasi, bahkan ikut memengaruhi proses pengambilan keputusan,” katanya.
Johan mendorong generasi muda memulai kontribusi dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan mereka dengan mengolah keresahan menjadi pengetahuan, gagasan, kolaborasi, hingga aksi nyata.
“Jangan berhenti pada kritik. Ubah keresahan menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi kolaborasi, dan kolaborasi menjadi aksi nyata. Indonesia terlalu besar untuk dibangun sendirian,” tegas Johan.
Menurutnya, kontribusi terhadap bangsa tidak harus dilakukan melalui jalur politik maupun jabatan publik karena anak muda dapat mengambil peran melalui pendidikan, teknologi, kewirausahaan, pertanian, lingkungan, profesi, komunitas, dan pengabdian sosial.
Johan juga menilai kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, tetapi perlu disertai kemampuan memahami persoalan, menawarkan alternatif, serta kesediaan terlibat dalam penyelesaiannya.
“Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Anak muda harus berani mengkritik negara ketika ada yang salah. Tetapi kritik harus kita naikkan menjadi kemampuan memahami masalah, menawarkan alternatif, dan bersedia ikut mengerjakannya. Kritik adalah bentuk kepedulian, sedangkan kontribusi adalah bentuk tanggung jawab,” ujarnya.
Negara Diminta Buka Ruang Partisipasi Generasi Muda
Johan menekankan semangat kebangsaan harus mampu membangun kesadaran bersama meski masyarakat memiliki perbedaan generasi, profesi, maupun pandangan politik.
“Dari ‘aku’ dan ‘kamu’, kita harus sampai kepada ‘kita’. Sebab Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu orang atau satu generasi. Indonesia dibangun ketika banyak orang dengan latar belakang berbeda bersedia mengambil tanggung jawab bersama,” katanya.
Ia juga meminta generasi muda tidak merasa hanya sedang menunggu giliran untuk menentukan masa depan Indonesia karena mereka telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa saat ini.
“Kalian bukan generasi yang sedang menunggu giliran. Kalian adalah generasi terbaru dari estafet perjuangan Indonesia. Tugas kita bukan sekadar menerima Indonesia, tetapi membuatnya lebih baik sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya,” pungkas Johan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




