HOME  ⁄  Nasional

Menko Pangan Sebut 6.000 Hektare Tambak Pantura Jawa Siap Direvitalisasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menko Pangan Sebut 6.000 Hektare Tambak Pantura Jawa Siap Direvitalisasi
Foto: (Sumber :Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kedua kanan) bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono (kedua kiri) memberikan keterangan kepada pers seusai rapat koordinasi percepatan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan budidaya ikan darat tematik di Jakarta, Selasa (15/9/2026). (ANTARA/Aria Ananda).)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut sekitar 6.000 hektare tambak di kawasan pantai utara (Pantura) Pulau Jawa siap direvitalisasi, sementara pemerintah masih menyelesaikan persoalan pertanahan pada area lainnya.

Zulkifli menyampaikan perkembangan program tersebut seusai rapat koordinasi di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Selasa (15/9/2026).

“Tambak-tambak yang sudah ada, tidak produktif lagi, terbengkalai, ini akan direvitalisasi,” kata Zulhas.

Menurut Zulhas, pemerintah sebelumnya menyiapkan cakupan sekitar 20.000 hektare untuk program tersebut, tetapi lahan yang saat ini siap direvitalisasi baru sekitar 6.000 hektare.

“Tadinya sekitar 20.000, tetapi yang siap baru 6.000, ya. Masalah tanah sedang kita selesaikan,” ujarnya.

Revitalisasi Difokuskan pada Tambak Tidak Produktif

Pemerintah mempercepat revitalisasi tambak Pantura Jawa untuk mengoptimalkan kembali kawasan tambak yang tidak produktif atau terbengkalai.

Dalam pembaruan program pada Juli 2026, KKP mencantumkan revitalisasi sekitar 14.000 hektare tambak Pantura Jawa sebagai salah satu program prioritas nasional sektor kelautan dan perikanan.

KKP bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah daerah sebelumnya menyepakati revitalisasi sekitar 20.413,25 hektare tambak di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu pada Juni 2025.

Lahan tersebut terdiri atas sekitar 8.188,49 hektare di Bekasi, 6.979,51 hektare di Karawang, 2.369,76 hektare di Subang, dan 2.875,48 hektare di Indramayu.

Kawasan seluas sekitar 20.413,25 hektare itu berada dalam skema Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan (KHKP) yang ditetapkan Kementerian Kehutanan.

Tambak Akan Gunakan Sistem Budi Daya Terintegrasi

KKP mencatat sebagian tambak Pantura telah lama tidak produktif dan masih dikelola secara tradisional tanpa fasilitas pendukung seperti tandon serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dengan produktivitas rata-rata sekitar 0,6 ton per hektare per tahun.

Program revitalisasi dirancang menggunakan sistem budi daya terintegrasi melalui pembangunan tandon dan IPAL, rekonstruksi kolam, penggunaan benih unggul dan pakan berkualitas, serta penerapan teknologi budi daya.

Nila salin disiapkan sebagai komoditas utama dengan kawasan budi daya yang akan dihubungkan dengan kegiatan hulu dan hilir, termasuk penyediaan benih, pakan, pengolahan hasil, serta fasilitas rantai dingin.

Dalam perencanaan revitalisasi seluas 20.413,25 hektare pada 2025, KKP memperkirakan program tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 119.100 orang pada kegiatan hulu, budi daya, hingga hilir.

KKP juga memadukan revitalisasi tambak dengan rehabilitasi kawasan pesisir untuk meningkatkan produksi perikanan, memperkuat penyediaan protein ikan, serta menjaga keberlanjutan ekosistem.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026