
Pantau - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav Indonesia menggandeng Boeing untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas operasional pergerakan pesawat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Kerja sama strategis tersebut difokuskan pada pengurangan kepadatan pergerakan pesawat di darat sekaligus meningkatkan kapasitas pemanfaatan landas pacu untuk mendukung keselamatan penerbangan dan ketepatan waktu.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt Avirianto Suratno menjelaskan salah satu tantangan utama operasional Bandara Ngurah Rai adalah tidak tersedianya taxiway atau jalur penghubung pesawat yang paralel.
"Di Bali itu memang harus ada peningkatan karena tidak ada taxiway yang paralel. Sehingga nanti Boeing akan membantu bagaimana kita bisa meningkatkan khususnya keselamatan, penerbangan, dan efisiensi waktu di darat," ungkap Avirianto.
Kondisi tersebut membuat Bandara Ngurah Rai membutuhkan pengelolaan pergerakan pesawat yang lebih taktis dan terintegrasi, terutama dalam mengoordinasikan proses departure atau keberangkatan dan arrival atau kedatangan.
Saat ini, kapasitas pelayanan Bandara Ngurah Rai tercatat sekitar 33 pergerakan pesawat per jam.
Melalui kerja sama dengan Boeing, AirNav menargetkan kapasitas tersebut dapat ditingkatkan melampaui kondisi saat ini, terutama untuk mengoptimalkan operasional pada jam-jam tersibuk atau golden time.
Boeing Gunakan Pemodelan dan Simulasi TAAM
Upaya peningkatan kapasitas akan dilakukan dengan menggabungkan teknologi pemodelan digital canggih milik Boeing dengan sistem serta kemampuan operasional AirNav Indonesia.
Avirianto mengatakan kajian tidak hanya melihat kondisi operasional bandara saat ini, tetapi juga mencari berbagai alternatif agar pergerakan pesawat menjadi lebih efisien.
"Yang kami lihat bukan hanya kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien. Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat," kata Avirianto.
Tahap awal studi dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model TAAM untuk menggambarkan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini.
Model tersebut menggunakan jadwal penerbangan selama 24 jam yang mewakili kondisi operasional normal bandara.
Pemodelan mencakup east flow dan west flow sebagai dua konfigurasi operasi berdasarkan arah aliran pergerakan pesawat.
Hasil pemodelan akan mencakup data statistik operasional serta visualisasi empat dimensi atau 4D.
AirNav dan Boeing juga akan melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan melibatkan Subject Matter Experts (SME) dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai, ground handling, dan perencanaan bandara.
"Hasil pemodelan berupa data statistik operasional dan visualisasi empat dimensi (4D). AirNav Indonesia dan Boeing juga akan melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai bersama Subject Matter Experts (SME) dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai, ground handling, dan perencanaan bandara," ujar Avirianto.
Lokasi yang dapat menjadi bagian dari observasi antara lain menara Air Traffic Control (ATC), fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, serta unit perencanaan dan pembangunan bandara.
Area sisi udara atau airside juga menjadi salah satu bagian yang dapat diamati dalam studi tersebut.
Setelah baseline model divalidasi menggunakan data operasional AirNav Indonesia, AirNav dan Boeing akan menyusun sejumlah alternatif untuk meningkatkan operasi Bandara Ngurah Rai.
Alternatif yang dikaji mencakup perubahan atau optimalisasi tata letak, prosedur pergerakan pesawat di darat, penggunaan taxiway dan area parkir pesawat, pengurutan pergerakan pesawat, serta mekanisme koordinasi operasional.
Seluruh alternatif tersebut selanjutnya diuji melalui simulasi TAAM dengan Boeing diperkirakan membuat hingga tiga skenario untuk membandingkan kinerja masing-masing opsi.
"Alternatif tersebut selanjutnya akan diuji melalui simulasi TAAM. Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menilai kinerja masing-masing opsi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan," kata Avirianto.
Pemerintah Dukung Pengembangan AirNav
Kepala Sub Direktorat Pengawasan dan Data Keselamatan Penerbangan Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indra Gunawan menilai kerja sama AirNav dan Boeing dapat memperkuat komitmen menghadirkan layanan navigasi penerbangan yang optimal.
Pemerintah turut memberikan dukungan melalui kebijakan tidak menarik dividen dari AirNav sehingga seluruh pendapatan perusahaan dapat digunakan kembali untuk mengembangkan pelayanan navigasi penerbangan.
"Sampai hari ini kebijakan pemerintah ke AirNav itu enggak menarik sama sekali dividen. Jadi semua pendapatan itu memang diserahkan kepada AirNav untuk mengembangkan pelayanan di bidang kenavigasian," kata Indra.
Pemerintah memandang pembenahan dan inovasi AirNav sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan navigasi penerbangan, terutama di kawasan strategis pariwisata seperti Bali yang memiliki aktivitas penerbangan tinggi.
Kerja sama dengan Boeing juga diharapkan menjadi sarana transfer knowledge atau transfer pengetahuan bagi personel AirNav agar pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan operasional bandara lain secara mandiri.
"Harapan kita nantinya AirNav dengan Boeing ini sekaligus wadah untuk teman-teman AirNav itu bisa transfer knowledge, sehingga nanti untuk yang di bandara-bandara lain, diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan, seperti juga yang terjadi di BUMN-BUMN yang lain," ungkap Indra.
- Penulis :
- Shila Glorya




