
Pantau - PT Weda Bay Nickel (WBN) bersama Universitas Khairun memperkuat pemantauan keanekaragaman hayati di wilayah operasional perusahaan di Halmahera, Maluku Utara, melalui pengamatan langsung, penggunaan camera trap, dan kajian jangka panjang.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan keberadaan flora dan fauna serta kondisi ekosistem dapat dipantau secara berkala sebagai dasar pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Senior Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel Fitri Rahmadani Ritonga mengatakan hasil pemantauan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan program keanekaragaman hayati dan pengelolaan lingkungan.
"Kami memantau dan mendapatkan hasil area mana yang memiliki nilai biodiversitas lebih tinggi, data tersebut menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengembangan program keanekaragaman hayati serta pengelolaan lingkungan yang juga tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Weda Bay Nickel," kata Fitri dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Menurut Fitri, komitmen tersebut dituangkan dalam kebijakan keanekaragaman hayati yang menjadi landasan WBN untuk menerapkan operasional berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan, reklamasi lahan, restorasi habitat, pengelolaan keanekaragaman hayati, serta pemenuhan regulasi lingkungan.
Titik Pemantauan Bertambah Menjadi 40
Pemantauan keanekaragaman hayati dilakukan dengan menggabungkan pengamatan langsung dan penggunaan camera trap serta diperkuat melalui kajian jangka panjang.
Identifikasi spesies di wilayah proyek telah dilakukan pada periode 2001-2008 dan dilanjutkan dengan survei pada 2010-2014.
Kajian tersebut digunakan untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati, menyediakan data spesies flora guna mendukung reklamasi lahan, serta menemukan flora yang memiliki nilai ekonomi maupun ekologis.
Peneliti sekaligus Dosen Universitas Khairun M. Natsir Tamalene mengatakan pemantauan flora dan fauna bersama WBN telah berlangsung sekitar empat tahun.
Jumlah lokasi pemantauan juga berkembang dari enam titik menjadi 40 titik.
"Halmahera berada di kawasan Wallacea, wilayah peralihan dengan tingkat endemisitas yang tinggi dan sebaran sejumlah spesies yang terbatas secara geografis," ujar Natsir.
Menurut Natsir, pemantauan secara berulang di berbagai titik diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu dan tidak hanya menggambarkan kondisi pada satu periode.
Ratusan Spesies Flora dan Fauna Teridentifikasi
Tim peneliti telah memverifikasi sekitar 249 spesies tumbuhan berdasarkan hasil pemantauan.
Sebanyak 81,1 persen tumbuhan yang ditemukan masuk kategori umum, 8,8 persen merupakan spesies endemik lokal, dan 5,6 persen memiliki persebaran regional hingga Papua.
Sebanyak 1,2 persen lainnya memiliki persebaran antarkawasan hingga Filipina, sementara berdasarkan habitat sekitar 63 persen spesies ditemukan di habitat primer.
Untuk kelompok fauna, pemantauan mengidentifikasi 53 spesies burung, 28 serangga, delapan mamalia, delapan amfibi, empat fauna tanah, dan tiga reptil.
Pemantauan juga menemukan 35 trigger species fauna serta 18 spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia.
Metode pemantauan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok fauna, mulai dari pengamatan langsung dan suara untuk burung hingga penggunaan camera trap untuk mamalia.
Kelelawar, reptil, mamalia kecil, dan fauna malam dipantau menggunakan metode serta perangkap yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing satwa.
Salah satu temuan dalam pemantauan tersebut adalah Tikus Duri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot), mamalia endemik Halmahera dengan catatan persebaran sangat terbatas.
Keberadaan spesies tersebut terekam menggunakan camera trap dan perangkap hidup (sherman traps) di salah satu titik pemantauan WBN.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




