HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Targetkan Saldo Sampah Indonesia Nol pada 2029 dengan Beragam Teknologi Pengolahan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemerintah Targetkan Saldo Sampah Indonesia Nol pada 2029 dengan Beragam Teknologi Pengolahan
Foto: Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat dalam peresmian pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis 17/9/2026 (sumber: ANTARA/M Fikri Setiawan)

Pantau - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat menargetkan saldo sampah di Indonesia menjadi nol pada 2029 melalui penerapan berbagai teknologi pengolahan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap daerah.

Jumhur menyampaikan target tersebut saat peresmian pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

"Yang tidak ada PSEL-nya juga harus saldonya zero. Harus selesai sampai tahun 2029, targetnya seperti itu," kata Menteri LH Jumhur Hidayat.

Teknologi Pengolahan Disesuaikan dengan Kondisi Daerah

Jumhur mengungkapkan program PSEL saat ini baru mencakup sekitar 60 kabupaten/kota di Indonesia, sementara sekitar 470 kabupaten/kota lainnya masih membutuhkan solusi untuk menangani dan mengelola sampah.

Pemerintah tidak hanya akan mengandalkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik untuk mencapai target saldo sampah nol pada 2029.

Berbagai teknologi dapat diterapkan dengan mempertimbangkan karakteristik dan volume sampah yang dihasilkan masing-masing daerah.

Alternatif teknologi tersebut antara lain pirolisis, Refuse-Derived Fuel (RDF), pengolahan sampah menjadi briket, hingga pelletizing.

"Berbagai teknologi kita welcome. Tidak harus menjadi listrik, tapi bisa menjadi pirolisis, menjadi RDF, menjadi briket, pelletizing seperti batu bara dan sebagainya," ujar Menteri LH Jumhur Hidayat.

Menurut Jumhur, teknologi selain PSEL dapat menjadi pilihan bagi wilayah dengan volume sampah yang lebih kecil atau tidak memenuhi skala untuk diolah menjadi energi listrik.

Sampah Tetap Harus Ditangani Selama PSEL Dibangun

Jumhur mengingatkan persoalan timbulan sampah harus tetap ditangani selama pembangunan fasilitas pengolahan berlangsung dan tidak dapat menunggu hingga PSEL mulai beroperasi.

Menurut dia, pembangunan fasilitas pengolahan sampah membutuhkan waktu sekitar dua tahun, sementara masyarakat terus menghasilkan sampah setiap hari selama periode tersebut.

Sampah organik menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan bau dan berbagai persoalan lingkungan.

"Dari sekarang sampai dua tahun sampah jalan terus dan khususnya organik yang timbulan bau dan sebagainya, itu juga akan jalan terus," kata Menteri LH Jumhur Hidayat.

Jumhur menegaskan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tetap memiliki tugas memastikan penanganan dan pengawasan sampah berjalan sejak sekarang, selama pembangunan fasilitas, hingga setelah PSEL beroperasi.

PSEL Bogor Raya 1 Ditargetkan Olah 500 Ribu Ton Sampah

PSEL Bogor Raya 1 dirancang mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah setiap tahun dengan nilai investasi sekitar Rp2,8 triliun.

Proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan listrik lebih dari 100.000 rumah di kawasan Bogor Raya.

Pengoperasian PSEL Bogor Raya 1 juga diproyeksikan mengurangi kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan akhir sekitar 80 persen.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026