
Pantau - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mendorong industri pengolahan sawit mengoptimalkan produksi untuk pasar domestik guna menjaga ketersediaan minyak goreng di tengah tingginya orientasi ekspor produk turunan minyak sawit.
Evita menyampaikan hal tersebut saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Berkah Emas Sumber Terang (BEST) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII meninjau fasilitas produksi sekaligus membahas perkembangan industri pengolahan minyak sawit dan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.
Evita mengapresiasi PT BEST yang mengolah Crude Palm Oil (CPO) menjadi berbagai produk turunan, antara lain minyak goreng, shortening, dan margarin untuk pasar domestik maupun internasional.
“Hari ini kami dari Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan ke PT BEST Semarang. Kita lihat dulu pabriknya, tadi kita sudah keliling-keliling pabrik ya, cukup lama juga. Pabrik ini dibangun dari tahun 2002 dan mulai beroperasi 2004. Kami cukup senang bahwa hilirisasi kita ini sudah mulai di produk bahan baku CPO. Mereka tidak ekspor CPO, tetapi mereka mengekspor pengolahan daripada CPO turunannya, bahkan hingga ke Cina dan negara-negara jauh di Afrika,” kata Evita.
Produksi Domestik Diminta Dioptimalkan
Evita mengatakan sekitar 70 persen produksi PT BEST dialokasikan untuk pasar ekspor, sedangkan 30 persen lainnya dipasarkan di dalam negeri.
Menurutnya, industri perlu menjaga keseimbangan antara ekspor dan pemenuhan kebutuhan masyarakat domestik.
“Jadi market segment mereka itu 70 persen ekspor, 30 persen di dalam negeri. Oleh karena itu, tadi saya sampaikan, bisa tidak untuk mengoptimalkan produksinya ditambahkan lagi untuk kebutuhan di dalam negeri? Tidak lucu kan kalau kita ekspor, tapi kebutuhan dalam negeri ini sebenarnya masih dibutuhkan. Kebutuhan minyak goreng di Jawa Tengah ini cukup tinggi, 566 ton per hari, coba bayangkan,” tegasnya.
Evita meminta pelaku industri memperkuat stok dan distribusi minyak goreng agar kelangkaan yang pernah terjadi tidak terulang.
“Pernah terjadi kelangkaan minyak goreng, nah ini jangan terjadi lagi. Kita tetap menekankan bagaimana para pelaku industri ini memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan kebutuhan dalam negeri dikedepankan daripada produk ekspornya. Sebab peraturannya, kebutuhan dalam negeri itu harus sudah cukup dulu, baru kita boleh ekspor. Mengoptimalkan distribusi di dalam negerinya,” ujarnya.
Hilirisasi Sawit Perlu Didukung Kepastian Bahan Baku
Evita turut mendorong sinergi antara Kementerian Perindustrian, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk mempercepat hilirisasi industri sawit.
Menurutnya, kepastian pasokan bahan baku CPO diperlukan agar kapasitas produksi industri pengolahan dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kita harapkan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden, bahwa kita ini benar-benar meningkatkan hilirisasi industri kita, baik pengolahan makanan, kendaraan listrik, dan lainnya. Bagaimana ke depan Kementerian Perindustrian ini memperkuat hilirisasi daripada industri-industri yang ada di Indonesia. Tentunya kita menginginkan PT BEST ini mengoptimalkan produksinya, dan jika ada kendala bahan baku seperti CPO, perlu ada koordinasi dengan pemerintah provinsi,” pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




