
Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat sebanyak 5.711 jiwa di 20 kecamatan terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang menyebabkan kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur Samudra Wira Purnama mengatakan kemarau panjang melanda sebagian besar wilayah Cianjur dan menyebabkan sejumlah sumber mata air mengering.
Debit air sungai yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mencuci dan mandi, juga terus berkurang.
BPBD mencatat sekitar 56 desa di 20 kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, dengan wilayah terdampak tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Cianjur.
Sejumlah wilayah terdampak antara lain Kecamatan Haurwangi, Ciranjang, Sukaluyu, Cibeber, hingga Cibinong.
BPBD Salurkan hingga 20.000 Liter Air Bersih
Untuk menangani krisis air bersih, BPBD Cianjur mendistribusikan bantuan menggunakan truk tangki setiap hari dengan melibatkan sejumlah instansi.
"Kami berkoordinasi dengan Perumdam Cianjur, Polres Cianjur, Dinas PUTR Cianjur, PMI Cianjur, guna mendistribusikan bantuan air bersih ke puluhan kecamatan terdampak yang dapat dijangkau truk tangki," ungkap Samudra.
Dalam setiap pendistribusian, rata-rata sebanyak 10.000-20.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan ribuan warga terdampak.
Sebagian warga kini mengandalkan pasokan air bersih dari truk tangki karena sumber air yang biasa digunakan tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Untuk wilayah yang tidak dapat dijangkau truk tangki, BPBD melakukan penanganan melalui pembuatan sumur bor, pemberian bantuan tandon air, serta pembangunan jaringan pipanisasi.
Pipanisasi dan Tandon Disiapkan di Wilayah Sulit Dijangkau
BPBD menyalurkan air bersih melalui jaringan pipanisasi menuju tandon berkapasitas sekitar 5.000 liter di daerah yang memiliki akses sulit.
"Ketika wilayah sulit dijangkau kami salurkan air bersih melalui pipanisasi yang ditampung di tandon air dengan kapasitas 5 ribu liter, sehingga warga tidak lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih," kata Samudra.
Penyediaan tandon dan jaringan pipanisasi tersebut dilakukan agar warga di wilayah sulit dijangkau tidak perlu berjalan jauh untuk memperoleh air bersih.
BPBD menyebut kekeringan selama kemarau panjang di Cianjur dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kerusakan hutan, perubahan iklim, serta pengelolaan sumber daya air yang kurang optimal.
BPBD juga melakukan langkah mitigasi dan penanganan untuk mencegah dampak kekeringan semakin meluas.
"Kami mengimbau masyarakat untuk bersama menghadapi kekeringan dengan menghemat penggunaan air dan melaporkan ketika terjadi krisis air bersih di lingkungan tempat tinggal-nya, kami akan segera membantu," ungkap Samudra.
Masyarakat diminta menghemat penggunaan air serta segera melaporkan kepada pihak terkait apabila mengalami krisis air bersih di lingkungan tempat tinggalnya.
- Penulis :
- Shila Glorya




