
Pantau - Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, Tudiono menyoroti besarnya potensi penguatan kemitraan ekonomi dan perdagangan Indonesia-Afrika Selatan yang ditopang kedekatan sejarah, budaya, dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Tudiono menyampaikan hal tersebut dalam Resepsi Diplomatik memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Cape Town, Afrika Selatan, Kamis, 17 September.
"Kedekatan sejarah dan budaya harus terus kita terjemahkan menjadi kerja sama nyata di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan konektivitas," ungkap Tudiono.
Menurut Tudiono, hubungan Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi kemitraan yang semakin konkret dan saling menguntungkan.
Sejarah Jadi Modal Penguatan Kerja Sama
Kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan telah terbentuk selama berabad-abad, antara lain melalui keberadaan sejumlah tokoh asal Nusantara di Cape pada masa kolonial.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain Syekh Yusuf Al-Makassari, Tuan Guru, dan Dea Malela yang meninggalkan warisan penting bagi perkembangan masyarakat Cape.
Tudiono menegaskan sejarah bersama tersebut tidak seharusnya hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai modal membangun kerja sama pada masa mendatang.
Perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan konektivitas menjadi sejumlah sektor yang dinilai memiliki peluang untuk semakin dikembangkan kedua negara.
Afrika Selatan juga disebut sebagai satu-satunya negara di Benua Afrika yang berstatus Mitra Strategis Indonesia.
Indonesia dan Afrika Selatan sama-sama menjadi anggota G20 dan BRICS sehingga membuka ruang lebih luas untuk memperkuat kerja sama bilateral sekaligus mendorong kemitraan di antara negara-negara Global South.
Western Cape Minister of Mobility Isaac Sileku yang hadir sebagai tamu kehormatan menyampaikan ucapan selamat HUT ke-81 Kemerdekaan RI kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.
Sileku menyoroti sejarah panjang Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menentang kolonialisme, termasuk peran Indonesia dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.
Menurut Sileku, potensi kerja sama kedua negara juga ditopang kedekatan sejarah, status Mitra Strategis, serta keanggotaan bersama dalam G20 dan BRICS.
Momentum hubungan bilateral semakin diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke Indonesia pada Oktober 2025.
Kunjungan tersebut dinilai menunjukkan luasnya peluang kerja sama yang dapat dikembangkan dalam bidang perdagangan, investasi, pertanian, pariwisata, hingga pertahanan.
Sileku menilai kedekatan historis dapat menjadi landasan membangun hubungan yang lebih konkret dan saling menguntungkan serta diterjemahkan menjadi kerja sama ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Diplomasi Budaya Perkuat Hubungan Masyarakat
Dalam Resepsi Diplomatik HUT ke-81 RI, KJRI Cape Town turut menampilkan sejumlah kesenian tradisional Indonesia sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Pertunjukan tersebut meliputi Tari Saman dari Aceh yang dibawakan Sanggar Tari EAON, Tari Lenggang Nyai dari Betawi, dan Dendang Mangkasara dari Makassar.
Penampilan budaya menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Nusantara kepada masyarakat Afrika Selatan dan komunitas diplomatik di Cape Town.
KJRI Cape Town juga menjalankan program Bahasa Indonesia yang telah memasuki angkatan kesembilan, Indonesian Folk Market, Indonesian Film Festival, serta berbagai kegiatan promosi budaya dan ekonomi.
Dalam bidang ekonomi, KJRI Cape Town terus mendorong peningkatan hubungan perdagangan, investasi, dan pariwisata kedua negara.
Semakin dikenalnya berbagai produk Indonesia di pasar Afrika Selatan menjadi salah satu indikator meningkatnya hubungan ekonomi kedua negara.
Perkembangan kuliner Indonesia di Western Cape serta meningkatnya kunjungan wisatawan Afrika Selatan ke Indonesia juga disebut mencerminkan semakin luasnya interaksi masyarakat dan pelaku usaha kedua negara.
Data Perdagangan Indonesia-Afrika Selatan Berbeda
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dihimpun melalui platform Trade Map, perdagangan Indonesia dan Afrika Selatan pada 2025 tercatat mengalami defisit sebesar R808,8 juta atau sekitar Rp885 juta.
Namun, catatan South African Revenue Service atau SARS dalam platform yang sama menunjukkan angka berbeda.
Data SARS mencatat perdagangan bilateral justru menghasilkan surplus sebesar R11,6 miliar atau sekitar Rp12,6 triliun di pihak Indonesia.
Berdasarkan diskusi para peneliti ekonomi, perbedaan data tersebut diduga dipengaruhi perbedaan metode pencatatan perdagangan yang digunakan Indonesia dan Afrika Selatan.
Indonesia menggunakan metode Free on Board atau FOB untuk mencatat ekspor dan metode Cost, Insurance, and Freight atau CIF untuk mencatat impor.
Afrika Selatan menggunakan metode FOB untuk pencatatan ekspor maupun impor.
Komoditas utama yang diekspor Afrika Selatan ke Indonesia antara lain produk mineral, besi dan baja, bahan kimia, makanan olahan, serta peralatan mesin.
Sementara itu, komoditas utama yang diimpor Afrika Selatan dari Indonesia meliputi produk lemak nabati dan hewani, peralatan mesin, alas kaki, bahan kimia, serta makanan olahan.
Resepsi Diplomatik HUT ke-81 RI menjadi momentum bagi KJRI Cape Town untuk menegaskan komitmen Indonesia memperkuat hubungan dengan Afrika Selatan dan mendorong kemitraan bilateral yang semakin berorientasi pada peluang ekonomi serta kemakmuran bersama.
- Penulis :
- Leon Weldrick
- Editor :
- Leon Weldrick




