HOME  ⁄  Nasional

BGN Hentikan Operasional SPPG Watubangga setelah 57 Pelajar Alami Keluhan Kesehatan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BGN Hentikan Operasional SPPG Watubangga setelah 57 Pelajar Alami Keluhan Kesehatan
Foto: SPPG Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga Baruga di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Kendari Mulyadi mengatakan penghentian distribusi MBG telah berlaku sejak Sabtu (19/9/2026) berdasarkan hasil evaluasi BGN.

"SPPG Kota Kendari Baruga Watubangga telah mendapat Surat Pemberhentian Operasional Sementara dari Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN," katanya.

Selama penghentian tersebut, SPPG Watubangga diminta tidak memproduksi maupun menyalurkan makanan kepada penerima manfaat MBG hingga terdapat keputusan lebih lanjut dari BGN.

BGN belum menentukan batas waktu penghentian operasional karena evaluasi terhadap SPPG tersebut masih dilakukan secara menyeluruh.

Sebanyak 57 Pelajar Alami Keluhan Kesehatan

Berdasarkan data internal SPPG, sebanyak 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG dengan mayoritas berasal dari MTs Al Askar Kendari dan MA Al Askar Kendari.

"SPPG Kota Kendari Baruga Watubangga melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan medis," ujarnya.

BGN juga menanggung biaya pengobatan dan perawatan para pelajar di Rumah Sakit Bahteramas, Rumah Sakit Dewi Sartika, serta Puskesmas Lepo-Lepo.

Dua Pelajar Masih Jalani Perawatan

Kepala Puskesmas Lepo-Lepo Baruga Dewi Sultriana mengatakan dua pelajar masih menjalani perawatan dari total 28 orang yang sebelumnya dibawa ke fasilitas kesehatan tersebut.

"Kalau kesehatan mereka sudah membaik dari waktu mereka masuk, hanya keluhannya masih ada yang pusing-pusing," kata Dewi.

Petugas puskesmas juga memantau kondisi psikologis para pelajar yang rata-rata berusia 12 hingga 15 tahun.

"Termasuk kondisi psikologis mereka kami pantau, karena masih ada pelajar yang belum dijenguk sama keluarga mereka," ujarnya.

Berdasarkan data kartu layanan jaminan sosial, para pelajar tersebut rata-rata berasal dari Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, dan Bombana.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026