HOME  ⁄  Nasional

Pengamat Sebut Jurnalisme Warga Bisa Jadi Sistem Peringatan Dini bagi Keamanan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pengamat Sebut Jurnalisme Warga Bisa Jadi Sistem Peringatan Dini bagi Keamanan
Foto: (Sumber :Pengamat politik sekaligus Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens. ANTARA/Handout/am..)

Pantau - Pengamat politik dan isu intelijen Boni Hargens mengatakan jurnalisme warga atau citizen journalism dapat menjadi sumber informasi terbuka yang dimanfaatkan institusi keamanan dan aparat penegak hukum sebagai bahan analisis potensi gangguan keamanan.

"Informasi yang berasal dari masyarakat luas ini, bila dikelola dengan metode yang tepat, dapat menjadi instrumen strategis dalam pemetaan potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan keamanan (ATHG)," kata Boni dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Boni menjelaskan kerangka ATHG merupakan instrumen analitis yang lazim digunakan dalam kajian keamanan nasional.

Menurut dia, pemanfaatan jurnalisme warga sebagai salah satu sumber informasi dapat membuat analisis ATHG lebih komprehensif karena didukung data lapangan aktual yang mencerminkan kondisi di masyarakat.

Informasi Warga Dinilai Bisa Jadi Peringatan Dini

Boni menilai pandangannya sejalan dengan pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengenai keluhan masyarakat yang semakin mudah tersebar melalui jurnalisme warga sebagai bentuk sistem peringatan dini bagi kepolisian.

Dalam acara Kompolnas Awards di Jakarta, Jumat (18/9/2026), Kapolri menjelaskan arus informasi dari warga kepada publik semakin terbuka pada era digital.

Media sosial, kanal video daring, hingga grup percakapan digital menjadi ruang bagi masyarakat untuk merekam, melaporkan, dan menyebarluaskan peristiwa di sekitarnya secara langsung atau real-time.

Boni menilai pernyataan Kapolri tersebut mencerminkan upaya kepolisian beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan arus informasi.

"Era digital yang ditandai oleh amorfisme informasi di ruang maya sudah seharusnya membawa perubahan pada paradigma penegak hukum dalam mengevaluasi dan meredefinisi makna dan pelaksanaan dari peran serta fungsi mereka di tengah masyarakat, bangsa, dan negara," ujarnya.

Penegak Hukum Dinilai Perlu Lebih Adaptif

Boni menggunakan istilah amorfisme informasi untuk menggambarkan informasi digital yang mudah berubah, menyebar ke berbagai arah, dan sulit dikendalikan secara terpusat.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat institusi penegak hukum tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan konvensional.

Ia mengatakan diperlukan paradigma yang lebih responsif dan adaptif serta mampu memanfaatkan berbagai sumber informasi terbuka secara cerdas dan terstruktur.

Boni juga berpandangan hubungan antara aparat keamanan dan warga sipil dalam negara demokrasi seharusnya berlangsung secara dialogis dan saling menguatkan.

"Warga yang aktif melapor dan berpartisipasi melalui jurnalisme digital merupakan mitra strategis dalam menjaga keamanan nasional," kata Boni.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026