
Pantau - Warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tenggarong, Kalimantan Timur, mendapatkan pembekalan keterampilan budidaya ayam petelur sebagai bekal menjalankan usaha produktif setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke masyarakat.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur Yan Rusmanto mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
"Program pembinaan kemandirian ini dilaksanakan secara terpadu untuk membekali warga binaan dengan keterampilan wirausaha produktif," kata Yan.
Enam Kandang Disiapkan untuk 6.000 Ayam
Program budidaya ayam petelur tersebut dikembangkan di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Tenggarong yang saat ini sedang dilengkapi berbagai fasilitas peternakan.
Sebanyak enam unit kandang berukuran sekitar 8 x 100 meter per unit disiapkan untuk mendukung program tersebut.
Setiap kandang dirancang memiliki kapasitas sekitar 1.000 ekor ayam petelur sehingga keseluruhan fasilitas nantinya mampu menampung sekitar 6.000 ekor ayam.
Sekitar 20 WBP akan dilibatkan secara langsung dalam program pembinaan sekaligus pengelolaan peternakan tersebut.
Warga binaan yang terlibat harus memenuhi sejumlah persyaratan dan dinyatakan lolos seleksi program asimilasi.
"Pengelolaan sektor peternakan unggas ini melibatkan langsung para narapidana yang telah memenuhi syarat dan lulus seleksi program pembinaan asimilasi," ungkap Yan.
Para WBP akan dibekali pengetahuan teknis budidaya ayam petelur, mulai dari tata cara pemberian pakan hingga pemeliharaan kebersihan dan sanitasi kandang.
Mereka juga mendapatkan pengetahuan mengenai penanganan kesehatan ternak untuk mendukung keberlangsungan kegiatan peternakan.
Pelatihan tidak hanya dilakukan pihak lapas, tetapi juga mendapatkan pendampingan teknis secara berkelanjutan dari instruktur Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kutai Kartanegara.
"Pelatihan keterampilan budidaya ayam petelur ini menjadi bekal konkret bagi narapidana saat selesai menjalani masa pidana dan kembali ke masyarakat," kata Yan.
Produksi Telur untuk Kebutuhan Lapas dan Masyarakat
Setelah seluruh fasilitas beroperasi, telur yang dihasilkan direncanakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan internal Lapas Kelas IIA Tenggarong.
Hasil produksi telur juga akan dipasarkan kepada masyarakat sehingga kegiatan peternakan memiliki nilai ekonomi.
Pengelolaan peternakan tersebut turut diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
"Kami berkomitmen mentransformasi fasilitas pemasyarakatan menjadi pusat pembinaan kemandirian yang produktif, inovatif, serta memiliki nilai ekonomi tinggi," ujar Yan.
Pembangunan fisik kandang ayam petelur saat ini telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi utama.
Pengelola juga tengah memenuhi kebutuhan instalasi pendukung agar fasilitas dapat digunakan untuk kegiatan operasional peternakan.
Dalam pengoperasiannya, pengelola lapas memastikan pemeliharaan ayam akan menerapkan standar kebersihan, kesehatan hewan, dan pengelolaan lingkungan.
Sebagai gambaran kapasitas, pada Agustus 2026 Lapas Kelas IIA Tenggarong tercatat dihuni sebanyak 1.359 WBP.
"Kemampuan wirausaha yang dimiliki warga binaan diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia mandiri yang siap berkarya di tengah masyarakat," kata Yan.
- Penulis :
- Arian Mesa




