
Pantau - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mendorong pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Kalimantan Tengah memperkuat penyiapan sumber daya manusia untuk meningkatkan penempatan pekerja migran Indonesia di pasar kerja luar negeri.
“Ini merupakan bagian penting dari upaya kita untuk memperluas akses informasi dan peluang-peluang kerja luar negeri yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global,” kata Mukhtarudin.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Program Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) yang digelar secara daring, Selasa (22/9/2026).
Mukhtarudin mengatakan peluang kerja luar negeri semakin strategis di tengah besarnya populasi usia produktif Indonesia dan fenomena aging population di sejumlah negara.
Menurut dia, bonus demografi perlu diikuti peningkatan kualitas SDM agar masyarakat usia produktif memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
“Usianya produktif tetapi SDM-nya tidak produktif, ini bisa menimbulkan permasalahan sosial, ekonomi, dan politik,” katanya.
KP2MI Targetkan 500 Ribu Calon Pekerja Terampil
Mukhtarudin mengatakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi perlu menyiapkan tenaga kerja dengan pengetahuan, keterampilan teknis, sikap, dan mental yang sesuai kebutuhan pasar global.
“Dari sisi demand, kebutuhan tenaga kerja luar negeri sangat tinggi. Tetapi demand yang tinggi ini harus diikuti persyaratan kompetensi, paling minimal bahasa, kemudian keterampilan teknis yang tersertifikasi,” ujarnya.
Pemerintah menjalankan program SMK Go Global untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan pasar kerja internasional dan kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia.
Program tersebut menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran terampil hingga 2029 yang terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 masyarakat umum.
Target itu dilakukan bertahap dengan 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Penyiapan tenaga kerja dilakukan dengan memetakan terlebih dahulu sektor pekerjaan, negara tujuan, serta kebutuhan kompetensi di pasar kerja.
“Paradigma berpikirnya kita balik. Sektornya ada dulu, negaranya ada dulu, demand-nya ada dulu, baru kita latih. Demand ini membutuhkan kompetensi seperti apa, baru kita latih seperti apa,” jelasnya.
“Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Bukan hanya dilatih kemudian tidak ada tindak lanjut,” tegas Mukhtarudin.
Program tersebut mencakup bidang pekerjaan seperti caregiver, welder, hospitality, perawat, manufaktur, dan sektor lain sesuai kebutuhan internasional.
Masyarakat Diingatkan Gunakan Jalur Resmi
Mukhtarudin menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam memberikan informasi yang benar mengenai prosedur bekerja di luar negeri.
Ia mengingatkan calon pekerja migran untuk menggunakan mekanisme penempatan resmi agar memperoleh hak dan pelindungan sesuai ketentuan.
“Yang repot itu kalau bekerja tidak prosedural, tidak aman, tidak melalui Disnaker, tidak melalui KP2MI, tidak melalui penempatan yang prosedural. Itu yang berbahaya,” katanya.
“Selama dia bekerja secara prosedural, insyaallah aman dan bekerja secara bermartabat di negara orang,” katanya.
Mukhtarudin berharap sinergi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia pendidikan, dan Kementerian P2MI dapat memperkuat penyiapan calon pekerja migran dari daerah, termasuk Kalimantan Tengah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




