HOME  ⁄  Nasional

Inovasi TEP Unhas Pangkas Pengeringan Pala di Fakfak dari Tujuh Hari Menjadi Dua Hari

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Inovasi TEP Unhas Pangkas Pengeringan Pala di Fakfak dari Tujuh Hari Menjadi Dua Hari
Foto: (Sumber :Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin menunjukkan pengoperasian alat pengering pala Smart Solar Biomass Dryer kepada warga di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Fakfak Timur, Papua Barat, Rabu (23/9/2026). ANTARA/HO-Kementerian Transmigras

Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyebut inovasi Smart Solar Biomass Dryer yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin mampu memangkas waktu pengeringan pala petani di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dari tujuh hari menjadi dua hari.

Teknologi tepat guna tersebut dikembangkan untuk membantu petani mengatasi kendala pascapanen, terutama proses pengeringan pala yang selama ini bergantung pada kondisi cuaca.

“Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya hujan,” kata Ketua Kelompok Tani Rangkum Aher Samai dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Aher mengatakan proses pengeringan dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar dan tidak membutuhkan listrik sehingga alat dapat digunakan di berbagai lokasi.

“Harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat,” ujar dia.

Pengering Mampu Tampung 1.000 Biji Pala

Kementrans menyebut Smart Solar Biomass Dryer mampu menjaga suhu pengeringan sekitar 60 derajat Celsius dan menampung hingga 1.000 biji pala dalam satu kali proses.

Kondisi pengeringan yang lebih terkendali membuat proses yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hari dapat diselesaikan dalam dua hari.

Penggunaan alat tersebut juga ditujukan untuk mengurangi risiko pala berjamur akibat proses pengeringan yang terganggu hujan.

Perwakilan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin Michel Obrien mengatakan alat tersebut memiliki lima baki untuk menempatkan pala selama proses pengeringan.

“Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, itu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” ujar Michel.

Teknologi tersebut memadukan energi surya dan biomassa serta dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT).

Petani dapat memantau suhu dan kelembapan ruang pengering melalui telepon seluler dengan suhu pengeringan pala dijaga pada kisaran 50–60 derajat Celsius.

Mekanisme hibrida memungkinkan biomassa ditambahkan ketika suhu berada di bawah 50 derajat Celsius dan dikurangi ketika suhu melewati 60 derajat Celsius.

TEP Dorong Inovasi di Kawasan Transmigrasi

Pengembangan teknologi pascapanen tersebut berkaitan dengan pala sebagai salah satu komoditas perkebunan di Papua Barat.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan luas areal pala di Papua Barat mencapai 32.440 hektare dengan produksi 1.555 ton.

Penerapan teknologi tepat guna menjadi salah satu tema prioritas TEP 2026 bersama hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi produktif, digitalisasi, serta energi terbarukan.

Program tersebut melibatkan perguruan tinggi dalam kegiatan riset, kajian, dan pendampingan untuk pembangunan serta pengembangan kawasan transmigrasi.

Kementrans mencatat TEP 2026 terdiri atas 246 tim dengan 1.476 peserta dari 10 perguruan tinggi mitra yang ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menekankan pentingnya kemandirian dan inovasi peserta TEP dalam mengidentifikasi persoalan masyarakat serta menghadirkan solusi.

“Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif,” kata Iftitah.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026