HOME  ⁄  Nasional

Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional, Hadirkan 30.000 Buku hingga Arsip Era VOC

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional, Hadirkan 30.000 Buku hingga Arsip Era VOC
Foto: Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Ketua Pengurus Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak saat meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada Jumat 25/9/2026 (sumber: ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

Pantau - Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya bersama Danantara Indonesia Trust secara resmi membuka Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Jumat.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Perpustakaan Danantara merupakan bagian dari kemitraan antara Danantara Indonesia Trust dan Kementerian Kebudayaan yang berfokus pada pengembangan akses publik terhadap pengetahuan budaya.

Menurut Fadli, keberadaan perpustakaan tersebut menjadi hasil kolaborasi kedua pihak sekaligus bentuk konkret nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani pada Mei lalu.

"Perpustakaan ini tidak mungkin hadir kalau tidak ada kolaborasi kerja sama dan ini adalah bukti konkret dari MoU yang ditandatangani pada bulan Mei lalu antara Danantara Indonesia Trust dengan Kementerian Kebudayaan," ungkap Fadli.

Jadi Pusat Pengetahuan Terbuka dengan Koleksi 30.000 Buku

Perpustakaan Danantara berada di dalam kompleks Museum Nasional Indonesia dan dirancang sebagai pusat pengetahuan terbuka (open-access knowledge hub) yang menghubungkan aspek budaya, pendidikan, dan pembelajaran publik dalam satu fasilitas.

Perpustakaan tersebut menempati Lantai 2 Gedung B Museum Nasional Indonesia dengan luas sekitar 330 meter persegi.

Ruang layanan baru di Lantai 2 melengkapi fasilitas perpustakaan yang sebelumnya berada di Lantai 6, sementara fasilitas lama tetap dipertahankan sebagai ruang arsip dan area riset.

Museum dan Cagar Budaya memisahkan fungsi ruang layanan baru dengan fasilitas di Lantai 6 untuk meningkatkan aksesibilitas, kenyamanan pengunjung, serta mengoptimalkan pemanfaatan koleksi bagi pemustaka.

Perpustakaan Danantara memiliki sekitar 30.000 buku yang mencakup berbagai bidang dan klasifikasi ilmu, mulai dari pengetahuan umum, buku bertema daerah, buku internasional, hingga buku referensi.

Koleksi lainnya meliputi buku terbitan Museum Nasional Indonesia, hikayat atau sastra lama, serta koleksi inventaris museum.

Perpustakaan juga memiliki sejumlah koleksi unggulan yang dapat menjadi rujukan penelitian sejarah dan kebudayaan, termasuk arsip dan berbagai terbitan Batavia Genootschap.

Serat Centhini, berbagai koleksi sastra Nusantara lama, serta terbitan khusus Museum Nasional Indonesia mengenai sejarah, budaya, dan benda-benda koleksi museum turut menjadi bagian dari koleksi unggulan.

Simpan Daghregister hingga Majalah Era Hindia Belanda

Fadli menjelaskan dari sekitar 30.000 buku yang diwarisi perpustakaan terdapat berbagai buku lama dan buku tua, termasuk sejumlah notulen serta Daghregister.

Daghregister merupakan catatan jurnal harian di Batavia yang berasal dari periode 1600-an dengan koleksi yang mencakup masa VOC hingga era Hindia Belanda.

Selain itu, perpustakaan menyimpan koleksi Tijdschrift berupa majalah-majalah yang diterbitkan pada masa Hindia Belanda.

"Di sini kita diwarisi sekitar 30.000 buku, termasuk buku-buku lama, buku-buku tua. Ada notulen dan ada cukup banyak Daghregister, ini adalah semacam catatan jurnal harian di Batavia dari tahun 1600-an, dari zaman VOC sampai era Hindia Belanda. Kemudian ada Tijdschrift, ini adalah majalah-majalah yang terbit di masa-masa Hindia Belanda," kata Fadli.

Danantara Dorong Kolaborasi untuk Tingkatkan Kualitas Manusia

Ketua Pengurus Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak mengatakan peresmian Perpustakaan Danantara menjadi salah satu bentuk kontribusi lembaganya dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui pendekatan kolaborasi.

Menurut Nuraini, Danantara Indonesia Trust ingin berkontribusi pada sejumlah bidang yang mendasari kualitas manusia Indonesia, meliputi pendidikan, kesehatan, air, dan sanitasi.

"Kami ingin berkontribusi kepada bidang-bidang yang mendasari kualitas manusia Indonesia, ada pendidikan, kesehatan, air, dan sanitasi. Karena itu, ini adalah salah satu contoh program yang kami lakukan dan pendekatan kami adalah kolaborasi," ungkap Nuraini.

Nuraini berharap Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan menjadi tempat untuk belajar dan memperoleh pengetahuan lebih luas.

Ia menekankan keberadaan sebuah perpustakaan akan memiliki arti apabila masyarakat datang dan benar-benar memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

"Karena perpustakaan baru benar-benar memiliki arti jika orang-orang datang dan benar-benar menggunakannya untuk belajar dan mengetahui hal lebih banyak," kata Nuraini.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026