
Pantau - Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen menegaskan dukungan Belanda terhadap kebebasan pers melalui penyelenggaraan World Press Photo Exhibition 2026 di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Marc mengatakan kebebasan pers menjadi salah satu prioritas Belanda dalam bidang hak asasi manusia, termasuk melalui kegiatan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.
"Kebebasan pers merupakan salah satu prioritas utama Belanda dalam bidang hak asasi manusia dan menjadi salah satu hal yang banyak kami kerjakan sebagai kedutaan," kata Marc dalam sambutannya pada pembukaan pameran.
Menurut Marc, jurnalisme tidak selalu menjadi profesi yang aman karena upaya menyampaikan kebenaran dapat membawa risiko bagi jurnalis, mulai dari ancaman kekerasan hingga mempertaruhkan nyawa ketika meliput bencana dan konflik.
World Press Photo Tampilkan 42 Cerita Pemenang
Marc mengatakan Belanda mendukung berbagai organisasi jurnalis di Indonesia dan memandang pers sebagai institusi penting dalam sistem demokrasi.
"Kami bangga mendukung kebebasan media di manapun, termasuk di Indonesia, yang juga tercermin dalam pameran tahun ini," ujarnya.
World Press Photo merupakan organisasi nirlaba independen yang didirikan di Belanda pada 1955 untuk memperkuat peran foto jurnalistik dalam memperdalam pemahaman, mendorong dialog, dan menginspirasi aksi.
Pameran tahun ini menampilkan karya pemenang kompetisi World Press Photo ke-69 yang mengangkat isu global dan kisah personal, mulai dari konflik dan krisis hingga ketahanan serta harapan.
"Jika digabungkan, karya-karya ini memberikan gambaran tentang dunia kita saat ini. Dengan melihatnya kita merasa terhubung dengan kehidupan banyak orang dari berbagai belahan dunia," katanya.
Sebanyak 31 dari 42 pemenang tahun ini berasal dari wilayah yang mereka dokumentasikan sehingga berbagai cerita dapat disampaikan oleh fotografer dari komunitas terkait.
Manajer Pameran World Press Photo Mariana Rettore Babtista mengatakan kompetisi tahun ini menerima lebih dari 57 ribu foto karya 3.747 fotografer profesional dari 141 negara.
Sebanyak 42 cerita kemudian dipilih sebagai pemenang berdasarkan keunggulan visual dan kedalaman investigasi dengan tema antara lain politik, gender, migrasi, konflik, dan krisis iklim.
Fotografi Jadi Ruang Dialog
Mariana mengatakan fotografi tidak hanya menjadi sarana mendokumentasikan peristiwa, tetapi juga dapat membuka ruang dialog terhadap berbagai realitas.
"Realitas jarang sesederhana itu. Dalam lingkungan seperti ini, fotografi menjadi lebih dari sekadar cara untuk mendokumentasikan peristiwa. Fotografi menjadi bentuk perlawanan dan ruang untuk berdialog," katanya.
Pameran menampilkan dokumentasi aksi protes di Argentina, Madagaskar, dan Nepal, penegakan hukum di Amerika Serikat, kekerasan polisi di Rio de Janeiro, serta konflik di Gaza dan Ukraina.
Isu krisis iklim turut ditampilkan melalui sejumlah cerita dari negara-negara kepulauan Pasifik, Meksiko, Amerika Serikat, dan Filipina.
Sejumlah karya lainnya mendokumentasikan ketangguhan masyarakat, termasuk perempuan Guatemala yang membawa pelaku kekerasan terhadap mereka ke pengadilan serta perempuan Maroko yang menentang aturan patriarki.
"Koleksi foto yang ditampilkan di sini lebih dari sekadar visual yang kuat. Pameran ini juga merupakan ajakan untuk berkomitmen pada kebebasan berekspresi dan kebebasan pers," katanya.
Mariana juga menyampaikan belasungkawa atas hilangnya fotografer jurnalistik Indonesia Ari Basuki bersama sejumlah jurnalis lain saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Karya Ari Basuki sebelumnya meraih penghargaan dalam kompetisi World Press Photo 2024.
- Penulis :
- Aditya Yohan




