HOME  ⁄  Hiburan

Fadli Zon Sebut Teater Jadi Tontonan Sekaligus Tuntunan untuk Angkat Isu Sosial

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Fadli Zon Sebut Teater Jadi Tontonan Sekaligus Tuntunan untuk Angkat Isu Sosial
Foto: (Sumber :Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat ditemui media usai pementasan monolog "Kalau Bukan Aku" di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (25/9/2026). ANTARA/Sri Dewi Larasati.)

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan seni pertunjukan seperti teater dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan karena mampu menyampaikan pesan moral dan berbagai isu penting kepada masyarakat.

Fadli menyampaikan hal tersebut setelah menyaksikan pementasan monolog "Kalau Bukan Aku" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (25/9/2026) malam.

"Dan kami berharap nanti makin banyak lagi tema-tema lain tentang sosial, kemanusiaan yang juga diangkat melalui seni pertunjukan, karena itu akan lebih cepat sampai, lebih mudah diterima. Selain menjadi tontonan, juga menjadi tuntunan," ujar Menbud Fadli Zon.

Kemenbud Dukung Ekosistem Seni Pertunjukan

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan mendukung pembangunan ekosistem seni yang mencakup sedikitnya lima sektor, yakni film, musik, sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan termasuk teater.

Ia juga menyoroti monolog "Kalau Bukan Aku" karya aktris Rahayu Saraswati yang mengangkat persoalan perdagangan orang.

Menurut Fadli, isu tersebut penting diangkat melalui seni pertunjukan karena kasus perdagangan orang masih ditemukan di Indonesia.

"Ditampilkan dalam bentuk teater, jadi pesan yang disampaikan melalui monoplay itu, bisa menggugah kesadaran orang bahwa di Indonesia ini masih banyak terjadi human trafficking ke luar negeri dan korbannya banyak di berbagai provinsi, desa, bahkan kota-kota, dan mereka yang menjadi korban ini kadang-kadang tidak mendapatkan keadilan, hilang lenyap begitu saja dan ini harus menjadi perhatian," ujar Menbud Fadli Zon.

Rahayu Saraswati Angkat Suara Keluarga Korban

Rahayu Saraswati atau Sara mengatakan "Kalau Bukan Aku" merupakan pementasan monolog perdananya.

Sara menyusun naskah tersebut berdasarkan pengalamannya sebagai aktivis anti-perdagangan orang sejak 2009.

Pementasan itu berupaya menyuarakan pengalaman keluarga korban perdagangan orang yang menurut Sara jarang terdengar.

"Saya menjadi aktivis anti-perdagangan orang, mengetahui bahwa banyak suara mereka tuh enggak didengar, tahunya itu hanya dari berita yang istilahnya itu udah disaring dan itu memang hanya soal kasusnya, tetapi bagaimana suara dari mereka yang ditinggalkan, mereka yang harus tinggal dengan luka dan trauma, dimana kadang-kadang keluarga korban malah dianggap aib," ujar Sara.

Fadli berharap semakin banyak tema sosial dan kemanusiaan diangkat melalui seni pertunjukan agar pesan yang dibawa dapat lebih mudah diterima masyarakat.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026