
Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadikan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang didukung Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai modal utama untuk memetakan program edukasi keuangan di berbagai daerah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan hasil SNLIK membantu OJK mengetahui tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia sehingga program edukasi dapat diarahkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
“Saya ingin menyampaikan betapa arti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan itu sangat penting dan bermanfaat buat masyarakat. Dengan adanya Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan ini kami bisa tahu persis, ke mana kita mengarahkan kapal kita. Kita harus tahu kita berada di titik mana,” kata Friderica di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
“Dan dengan hasil SNLIK ini, kami tahu berapa tingkat literasi masyarakat Indonesia dan berapa tingkat inklusinya. Dengan itu kami mapping berbagai program edukasi yang baik untuk dilakukan untuk setiap wilayah-wilayah yang dirasa masih kurang tingkat literasinya maupun tingkat inklusinya,” imbuhnya.
OJK Gunakan Data untuk Memperkuat Edukasi Keuangan
Friderica mengatakan OJK tidak hanya memiliki tugas mengatur dan mengawasi seluruh sektor jasa keuangan, tetapi juga memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam aktivitas keuangan.
“OJK by undang-undang, mendapat tugas yang mengatur, mengawasi seluruh sektor jasa keuangan. Namun, ada satu tugas juga, melindungi. Salah satu aspek pelindungan adalah memberikan literasi, edukasi kepada masyarakat,” ujar dia.
Ia juga mengapresiasi BPS sebagai mitra penting OJK dalam pelaksanaan survei literasi dan inklusi keuangan.
Friderica mengatakan OJK aktif menjadi anggota International Network for Financial Education (INFE) OECD di tengah proses aksesi Indonesia menjadi anggota OECD.
“Saat ini kita sedang dalam proses aksesi untuk negara OECD, tapi kami secara aktif menjadi member dari INFE-nya, International Network for Financial Education,” kata dia.
Menurut Friderica, jumlah sampel SNLIK bersama BPS jauh lebih besar dibandingkan survei literasi dan inklusi yang dilakukan OECD.
“OECD juga punya survei terkait literasi-inklusi di semua negara OECD. Mereka (OECD) kalau survei sekitar 1.000-2.000 (sampel), sedangkan dengan BPS, tahun pertama kita 10 ribu lebih sampelnya, dan terakhir kemarin 75 ribu, jadi luar biasa. Terima kasih untuk seluruh insan statistik Indonesia,” ujarnya menambahkan.
OJK Ingin SNLIK Diperluas hingga Kabupaten dan Kota
OJK berharap kerja sama dengan BPS terkait SNLIK terus diperkuat agar menghasilkan data yang semakin akurat hingga tingkat provinsi serta kabupaten dan kota.
Data tersebut akan digunakan untuk mengetahui wilayah yang tingkat literasi dan inklusi keuangannya masih berada di bawah angka nasional maupun wilayah yang sudah mencatatkan capaian lebih tinggi.
“Karena ini sangat penting, jadi kita bisa tahu provinsi mana yang masih di bawah angka nasional (literasi dan inklusi keuangan), dan mana yang sudah baik. Insya Allah tahun depan kita mau bekerja sama untuk (memperluas survei) tingkat kabupaten/kota,” ujar Friderica.
- Penulis :
- Gerry Eka





