
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah perlu terus dibangun melalui pelatihan untuk mengurangi risiko gempa bumi yang waktu dan lokasi kejadiannya belum dapat diprediksi secara pasti.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) yang digelar bagi masyarakat Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Kondisi geografis Karanganyar yang berdekatan dengan sesar aktif daratan dan zona subduksi selatan Jawa menjadi alasan pentingnya membangun respons serta refleks keselamatan masyarakat ketika menghadapi gempa.
Pelatihan tidak hanya diikuti masyarakat, tetapi juga melibatkan 53 peserta dari BPBD, dinas terkait, satuan pendidikan, relawan, dan awak media di Karanganyar.
Peserta Dibekali Simulasi Penanganan Gempa
BMKG membekali peserta dengan sejumlah pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi.
“Para peserta itu dibekali pengetahuan pengenalan earthquake early warning system (EEWS), simulasi guncangan, hingga latihan simulasi pengambilan keputusan atau table top exercise,” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Instruktur dari Stasiun Geofisika Kelas I Sleman dalam pelatihan tersebut berupaya menerjemahkan informasi kebencanaan menjadi langkah mitigasi yang dapat diterapkan di lapangan.
BMKG menegaskan belum terdapat teknologi yang mampu memprediksi secara presisi kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi sehingga kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan perlu dibangun sejak dini.
Teknologi Pemantauan Terus Dimanfaatkan
Pemerintah Indonesia saat ini memiliki ratusan sensor seismik BMKG untuk mendukung pemantauan aktivitas kegempaan.
Sejumlah teknologi lain seperti buoy, tide gauge, dan kabel serat optik bawah laut milik sejumlah kementerian serta lembaga pemerintah juga dimanfaatkan sesuai fungsinya, termasuk untuk mendeteksi dampak lanjutan gempa seperti tsunami.
“Jadi program SLG ini sudah selaras dengan inisiatif global Early Warning, Early Action, dan Early Warning for All,” cetusnya.
Faisal berharap peserta SLG dapat membagikan keterampilan dan pengetahuan mitigasi bencana kepada keluarga serta masyarakat di lingkungan masing-masing untuk mengurangi risiko ketika gempa bumi terjadi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




