
Pantau - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemerintah akan melanjutkan pengembangan pelabuhan perikanan modern terintegrasi di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap, Jawa Tengah, dan Bitung, Sulawesi Utara.
Pengembangan Cilacap dan Bitung dilakukan setelah pemerintah menjalankan proyek pelabuhan perikanan modern di Cirebon, Jawa Barat, serta Pengambengan di Jembrana, Bali.
Pengembangan tersebut ditujukan untuk memperkuat fungsi pelabuhan sebagai pusat bisnis hasil tangkapan dan ekspor produk perikanan sekaligus menghadirkan pelayanan terintegrasi bagi nelayan serta pelaku usaha.
“Setelah ini nanti kita akan lakukan hal yang sama di Cilacap, kemudian Bitung. Jadi ada empat pelabuhan yang kita akan tingkatkan menjadi pelabuhan modern, international fish market kira-kira begitu,” kata Trenggono.
Empat Pelabuhan Jadi Proyek Percontohan
Empat lokasi yang menjadi fokus pemerintah adalah Cirebon, Pengambengan, Cilacap, dan Bitung yang akan dikembangkan dengan konsep pelabuhan modern serta international fish market.
Keempat pelabuhan tersebut akan menjadi proyek percontohan atau modeling sebelum konsep serupa diterapkan secara lebih luas di lokasi lainnya.
Pemerintah akan membangun dan memantau efektivitas pengembangan di empat lokasi tersebut untuk mengetahui keberhasilan model yang diterapkan.
“Kalau ini sudah dari empat titik itu sudah kita bangun, kita akan monitor. Sama seperti yang biasa kami lakukan, baik itu pembangunan kampung nelayan merah putih, baik itu pembuatan mini RAS (budi daya ikan skala kecil), baik itu pembangunan integrated shrimp farm dan lain sebagainya, itu selalu kita buat modeling,” ujar Trenggono.
Menurut Trenggono, pendekatan serupa telah digunakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam program Kampung Nelayan Merah Putih, mini RAS untuk budi daya ikan skala kecil, serta integrated shrimp farm.
Keberhasilan pengembangan empat pelabuhan tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk membangun kekuatan ekonomi baru dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
Potensi Tuna dan Cumi Jadi Pertimbangan Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya perikanan dan jalur penangkapan ikan di masing-masing wilayah.
Untuk wilayah selatan Indonesia, pemerintah memilih Pengambengan dan Cilacap karena berada di kawasan dengan potensi sumber daya perikanan besar, terutama tuna sirip biru dan cumi-cumi.
“Kalau mewakili Indonesia, jalur 573 itu jalur Laut Hindia yang potensi tuna sirip birunya besar, lalu kemudian cuminya juga besar, maka dua pelabuhan yang kita bikin, yang pertama di sini, yang kedua di Cilacap,” jelas Trenggono.
Sementara untuk kawasan Pantai Utara Jawa, pemerintah memilih Cirebon karena memiliki potensi komoditas cumi-cumi sekaligus rekam jejak sebagai kawasan dengan aktivitas ekspor perikanan yang besar.
“Lalu kemudian yang di Pantai Utara, itu juga banyak sekali cumi, itu di Cirebon. Dari Cirebon, karena Cirebon juga pertama punya sejarah ekspor yang paling besar di sana, jadi kita kembangkan,” ungkapnya.
Untuk mewakili kawasan Indonesia Timur, pemerintah menetapkan Bitung, Sulawesi Utara, sebagai lokasi pengembangan pelabuhan perikanan modern berikutnya.
Selain empat lokasi tersebut, pemerintah turut mempertimbangkan pengembangan pelabuhan perikanan di Belawan, Sumatera Utara, tetapi rencana tersebut masih dalam tahap kajian.
“Berikutnya yang di Indonesia Timur. Indonesia Timur itu di Bitung. Nanti sebetulnya satu lagi di Belawan ya, tapi sedang kita studi dulu Belawan seperti apa,” kata Trenggono.
- Penulis :
- Leon Weldrick




